Festival Kopi Banjarsari, Wujud Syukur Petani di Kaki Gunung Andong

Setiap tahun di bulan Agustus hingga Oktober, menjadi masa panen raya kopi dengan hasil mencapai ribuan ton.

MAGELANG – Ada yang berbeda di Desa Banjarsari Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang. Pemerintah desa setempat menggelar festival kopi, Sabtu-Minggu (29-30/2018) sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas kekayaan alam yang sudah dinikmati.

Festival Kopi Desa Banjarsari, Kabupaten Magelang, Sabtu-Minggu (29-30/9/2018). Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Puluhan perempuan dengan berpakaian adat Jawa berderet di depan anglo atau tungku. Di atas tungku ada wajan dari tanah liat dengan bijian kopi di dalamnya.

Aksi mereka merupakan bagian dari kemeriahan festival kopi yang berlangsung di kaki Gunung Andong. Ada pula kirab keliling kampung sambil membawa gunungan yang terbuat dari biji kopi.

Gunungan yang berjumlah sembilan itu, diarak menelusuri sudut desa yang dipimpin Agus Merapi. Dalam ritualnya, Agus memakan bunga kopi, sambil membawa dupa. 

Dalam festival ini juga dibuka kedai kopi yang menjual kopi hasil perkebunan warga. Ada kopi jenis arabika, robusta dan kopi lanang. Bahkan ada juga kopi hasil persilangan antara kopi lokal dengan kopi robusta.

Kirab kopi berhenti sampai di panggung kehormatan, di mana Bupati Magelang Zaenal Arifin sudah menanti. Nampak pula Kapolres Magelang AKBP Hari Purnomo, anggota DPRD Kabupaten Magelang, Mul Budi Santoso, Pj Sekda Endra Wacana, Camat Grabag, Labbaika dan undangan lainnya.

Bupati Zaenal Arifin berharap, festival ini akan berlanjut hingga memberi dampak positif terhadap masyarakat. “Dengan kegiatan ini, diharapkan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan sehingga berdampak pada kesejahteraan petani,” katanya.

Menurut Bupati, tanaman Kopi Banjarsari ini, telah melewati perjalanan panjang dengan ketekunan para petaninya. Kebun kopi milik warga ini berjarak 42 km dari pusat Pemerintahan Kabupaten Magelang.

Hijau tanaman kopi di Desa Banjarsari, telah berusia puluhan tahun. Pohon kopi setinggi rata-rata 1,5 meter di ladang warga sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Pohon kopi ini tumbuh di antara perbukitan dengan tinggi 750 meter. Setiap tahun di bulan Agustus hingga Oktober, menjadi masa panen raya dengan hasil mencapai ribuan ton. Adapun harga biji kopi kering semula Rp 22.000, kini mencapai Rp 30.000 per kilogram.

Kepala Desa Banjarsari, Muhammad Asfuri dalam laporannya mengatakan, secara turun temurun tanaman kopi di Desa Banjarsari terpelihara dengan baik, sehingga memiliki citarasa khas di banding kopi lain.

“Kopi ini memiliki karakter keasaman rendah, tanaman sudah ada sejak zaman penjajahan belanda dan hingga kini terus dirawat ” ujarnya. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.