Erupsi, Cara Merapi Berkahi Warga

image
Sejumlah seniman mengekspresikan cara mereka memperingati 5 tahun erupsi Merapi.

MAGELANG- Masih belum hilang di benak warga yang tinggal di Lereng Gunung Merapi dan sekitarnya, erupsi besar yang terjadi pada gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Magelang, Sleman, Boyolali dan Klaten, 5 tahun lalu. Erupsi pada 26 Oktober dan5 November 2010 yang akhirnya menewaskan tidak kurang 353 orang, termasuk juru kunci Mbah Marijan. Erupsi yang akhirnya menimbulkan solidaritas masyarakat seluruh Indonesia bahkan dunia.
Atas peristiwa itu, seniman, relawan dan pejabat memperingatinya dengan menggelar aksi teatrikal di lereng Gunung Merapi tepatnya diKetep Pass, Sawangan Kabupaten Magelang, Kamis (5/11).
Aksi ini diawali dengan pembacaan puisi oleh penyair Bambang Eka Prasetya dan orasi budaya oleh seniman Tutup Ngisor, Sitras Anjilin dan Agus “Merapi” Suyitno.
Sitras mengatakan, Gunung Merapi dianggap sebagai sumber bencana ketika ada korban jiwa. Sitras menilai jika saja manusia tidak tinggal di kaki Gunung Merapi maka tidak akan ada korban jiwa.
Ia menegaskan, Gunung Merapi sebenarnya bukan ancaman. Merapi tidak pernah memusuhi manusia namun manusialah yang memusuhi Merapi. Erupsi merupakan cara Gunung Merapi membangun dirinya sendiri.
Sementara itu, Kepala Disparbud Kabupaten Magelang mengemukakan, ketika Merapi menghadirkan kegarangannya, ternyata manusia tidak bisa melakukan apa-apa. “Manusia bukan siapa-siapa dan tidak berdaya menghadapi Merapi,” katanya.
Edi mengatakan erupsi 2010 menimbulkan dampak besar, bahkan museum Merapi di Ketep Pass terpaksa tutup karena tertutup debu vulkanik tebal. Wisatawan juga membatalkan kunjungan ke Candi Borobudur dan Ketep Pass. Karena itu, Edi mengajak masyarakat mengambil hikmah keberadaan Gunung Merapi.
Menutup peringatan 5 tahun erupsi Gunung Merapi, seniman Agus Merapi menggelaraksi teatrikal meditatif dengan membebaskan gerak irama. Mereka membawa lukisan foto, Nyi Gadung Melati yang melambangkan dewi kesuburan .
Agus menjelaskan, pihaknya sengaja membawa lukisan Nyi Gadung Melati yang membawakan dewi kesuburan, karena wilayah lereng Gunung Merapi ini sangat subur sekali. Bahkan, ketika erupsi terjadi justru membawa abu vulkanik yang bisa jadi pupuk.
Di sini, katanya, kita tidak memandang erupsi Gunung Merapi sebagai bencana. Namun, lebih pada berkah yang kita dapat setelah erupsi. Seperti, abu vulkaniknya bisa menjadi pupuk yang menjadikan lahan sekitar menjadi subur, ditanami apa apa bisa tumbuh.
Saat aksi teatrikal meditatif,semua gerak penari tidak dibatasi dan diberi kebebasan begitu pula dengan musiknya. Namun, penari harus menyelaraskan diri dengan alam sekitar. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

45 + = 55

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.