Era JKN-KIS, Berobat Tak Selalu di Rumah Sakit

Puskesmas sebagai FKTP menjadi garda pertama dalam memberikan pelayanan kepada peserta JKN-KIS dan dekat dengan masyarakat.

SEMARANG – Pada era program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) seperti sekarang ini masyarakat tidak selalu harus berobat ke rumah sakit (RS). Sebab, ada alur dan prosedur pelayanan kesehatan yang harus dilewati peserta JKN-KIS.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang Bimantoro melayani peserta JKN-KIS di Kantor Layanan Operasional Kabupaten Demak. Foto: istimewa

Sebelum memanfaatkan pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), peserta harus kontak Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas, Klinik maupun Dokter Praktek Mandiri, kecuali dalam keadaan gawat darurat.

Untuk itu, BPJS Kesehatan Cabang Semarang dan Puskesmas Mranggen 2 memberikan edukasi kepada masyarakat di Kecamatan Mranggen Demak tentang Program Rujuk Balik dan Program Pelayanan Penyakit Kronis.

Kepala Puskesmas Mranggen, dokter Haerudin mengatakan, tugas dari pihaknya tidak hanya bisa memberikan pelayanan kesehatan bagi yang sakit saja atau pelayanan kuratif saja. Namun juga pelayanan promotif dan preventif, sebagai upaya mencegah dan meningkatkan status kesehatan masyarakat.

“Seperti Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang diselenggarakan oleh puskesmas bagi peserta JKN-KIS dengan penyakit hipertensi dan diabetes melitus sangat bisa ditangani di tempat kami. Sebab, dokter di Puskesmas bisa memberikan obat sama dengan yang diresepkan oleh dokter spesialis di rumah sakit,” ungkapnya, Kamis (11/7/2019).

Sehingga, lanjut dia, tidak perlu masyarakat yang menderita penyakit diabetes melitus (DM) dan hipertensi “minta” dirujuk ke rumah sakit hanya untuk berobat.

Ada tiga hal penting yang disampaikan dalam acara sosialisasi tersebut di antaranya tentang skrinning kesehatan, sebagai upaya mendeteksi faktor risiko penyakit diabetes melitus akan dilakukan pemeriksaan berat badan, tinggi badan dan lingkar perut bagi peserta yang berkunjung ke FKTP. Dokter akan melihat apabila indeks masa tubuh (IMT) atau lingkar perut berada dalam batas normal atau diatas normal. Jika diatas normal maka peserta berpotensi menderita penyakit tersebut dan bisa dilakukan skrinning lanjutan berupa pemeriksaan Gula Darah Puasa (GDP) dan atau Gula Darah 2 jam Puasa (GDPP).

“Bagi peserta JKN-KIS apabila dari fasilitas kesehatan memberikan pengantar skrinning lanjutan mohon untuk dipatuhi. Sebab, banyak dari peserta yang mengabaikan, karena merasa sehat dan baik-baik saja,” kata Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Primer BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Asri Wulandari.

Kemudian untuk Prolanis, dari hasil skrinning peserta apabila hasilnya kurang baik dan mengindikasikan gejala DM dan hipertensi maka peserta harus mulai mengevaluasi atau mengubah pola makan, gaya hidup, konsultasi dokter. Sebagai peserta prolanis peserta akan memperoleh pemeriksaan rutin setiap bulan, pemeriksaan lengkap tahunan, konsultasi dan mengikuti kegiatan prolanis seperti senam dan edukasi.

Lalu mengenai Program Rujuk Balik (PRB), peserta yang memperoleh pelayanan kesehatan di rumah sakit apabila tidak ada komplikasi, tidak ada penyulit dan dalam keadaan stabil, maka bisa dikembalikan atau dirujuk balik oleh dokter spesialis RS ke FKTP.

Ada 9 penyakit yang bisa dirujuk balik antara lain, DM, hipertensi, PPOK, epilepsi, asma, jantung, penyakit jiwa, SLE, dan stroke. Pengobatan dan pemantauan pasien PRB selanjutnya akan diteruskan oleh dokter di FKTP sama persis seperti yang diberikan oleh dokter spesialis di RS. Untuk Obatnya disediakan dan dilayani oleh Apotek PRB yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

“Ini yang kami harapkan bahwa puskesmas sebagai FKTP menjadi garda pertama dalam memberikan pelayanan kepada peserta JKN-KIS dan dekat dengan masyarakat. Sehingga harapannya edukasi-edukasi yang dilakukan oleh puskesmas bisa mengubah paradigma masyarakat dari sakit menjadi sehat dan juga mengubah mindset masyarakat bahwa berobat tidak harus selalu ke rumah sakit,” tandas Asri. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.