Empat Bulan, 609 Orang Ditetapkan Tersangka Narkoba di Jateng

10 Kg Sabu Disita Polda Jateng

Beberapa kota yang menjadi fokus perhatian di antaranya Kota Semarang, Soloraya dan Jepara.

SEMARANG – Selama empat bulan, sejak Januari hingga awal April 2019, Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jateng bersama jajaran Polres telah mengungkap 500 kasus narkoba dengan total 609 tersangka. Barang bukti sabu masih mendominasi pengungkapan jaringan narkoba tersebut dengan berat total mencapai sekitar 10 kilogram.

 

Direktur Resnarkoba Polda Jateng Kombes Pol Wachyono.(metrojateng.com/ahmad khoirul asyhar)

 

Direktur Resnarkoba Polda Jateng Kombes Pol Wachyono mengatakan selama periode Januari-Maret 2019 Polda Jateng dan jajaran Polres telah berhasil mengungkap 499 kasus narkoba dengan total 608 tersangka. Berbagai barang bukti narkoba yang disita meliputi 2.504,16 gram sabu, 905,03 gram ganja, 3 pohon ganja, 934 butir ekstasi, dan 72,32 gram ganja estetis. Kemudian ada 482 butir obat psikotropika, 34.077 butir obat dengan pelanggaran Undang-undang Kesehatan, jamu 36.022 sachet dan 29.508 kapsul.

“Jumlah itu ditambah pengungkapan kasus sabu oleh Polrestabes Semarang dengan barang bukti 8 kilogram pada 8 April 2019 lalu. Lalu ada juga pengungkapan di Demak dengan barang bukti 700 gram yang masih dikembangkan,” kata Direktur Resnarkoba Polda Jateng Kombes Pol Wachyono, saat ditemui di Mapolda Jateng, Kamis (11/4/2019).

Terkait peta kerawanan peredaran narkoba, Wachyono menyebutkan ada beberapa kota yang menjadi fokus perhatian. Di antaranya wilayah Kota Semarang dan sekitarnya, wilayah Soloraya, dan Jepara. Berdasarkan analisa sementara, wilayah Jateng saat ini bukan lagi sebagai wilayah perlintasan peredaran narkoba tetapi sudah menjadi salah satu sasaran.

“Analisa sementara ini memang tahun kemarin hanya perlintasan saja. Adanya bandar kecil yang banyak ditangkap dan kemarin adanya penangkapan dari Polrestabes yang mencapai 8 kilogram itu berarti kita perlu mengubah mindset. Artinya Semarang dan Jateng sudah menjadi sasaran peredaran itu,” jelas Wachyono.

“Peredaran sabu banyak terjadi di tiga wilayah itu, ditambah sekarang sudah masuk ke wilayah Demak. Kalau ganja dan obat yang melanggar UU Kesehatan termasuk jamu banyak di daerah Banyumas dan Cilacap,” sambungnya.

Melihat banyaknya kasus peredaran narkoba di Jateng, Wachyono meminta kepada anggotanya dan juga jajaran Polres untuk lebih fokus dan bekerja keras dalam menangani kasus narkoba. Selain itu juga diperlukan sinergitas dari semua fungsi kepolisian dan stakeholder untuk bisa memerangi narkoba. Sebab memerangi narkoba bukan semata-mata memenangi dampaknya saja tetapi ada ancaman yang lebih besar lagi.

“Untuk menekan tidak bisa bekerja sendiri. Harus bersinergi dengan fungsi lain. Fungsi preventif dan preemtif harus juga dikuatkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terkait bahaya narkoba. Narkoba ini susah diberantas karena berbicara narkoba ini berarti berbicara bisnis,” tegasnya. (aka)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.