Elang Jawa Milik Warga Banyumanik Disita BKSDA

Elang Jawa sitaan dari Banyumanik akan dititipkan sementara untuk dirawat di Taman Satwa Sidomuncul Ungaran

SEMARANG – Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam mengevakuasi seekor elang Jawa dari tangan warga Banyumanik Semarang, pada Kamis (16/8/2018) kemarin. Menurut Kepala BKSDA Jawa Tengah, Suharman, sesuai Permen KLHK Nomor 20 Tahun 2018, spesies hewan tersebut termasuk salah satu yang dilarang oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Elang Jawa yang disita BKSDA Jateng dari seorang warga di Banyumanik Semarang. Foto: metrojateng.com/fariz fardianto

“Evakuasi elang Jawa tersebut dilakukan oleh para petugas yang dipimpin oleh Haryono, selaku Resor Konservasi Wilayah Semarang. Elang Jawa yang punya nama latin Nisaetus bartelsi ditemukan oleh Diah di belakang rumahnya di kawasan Banyumanik Semarang,” kata Suharman kepada metrojateng.com, Minggu (19/8/2018).

Ia menegaskan hewan predator tersebut lalu disita petugas. Suharman memperkirakan elang Jawa itu berumur kurang lebih setahun.

Nantinya elang Jawa sitaan dari Banyumanik akan dititipkan sementara untuk dirawat di Taman Satwa Sidomuncul Ungaran. “Akan dititiprawatkan sementara di sana sambil menunggu lembaga konservasi ada yang siap memeliharanya,” cetusnya.

Suharman menyatakan elang Jawa merupakan satwa endemik Jawa yang dilindungi menurut PP Nomor 7 Tahun 1999, dan masuk dalam kategori endangered menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Sebaran habitatnya semakin terbatas di beberapa titik Pulau Jawa, dari ujung barat Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo.

BACA JUGA: Sempat Terjepit, Burung Langka Ini Akhirnya Diselamatkan Petugas Pemadam Kebakaran

Kini wilayah edar elang Jawa kian mengkhawatirkan. Menurutnya, elang Jawa hanya ditemukan terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan.

“Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa,” bebernya.

Burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng dan hanya pada wilayah dengan tutupan lahan yang cukup baik, hingga ketinggian 2.200 sampai dengan 3.000 mdpl.

Maskot Satwa Langka

Sejak 1992, ia menambahkan, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia. Secara fisik, elang Jawa memiliki jambul menonjol sebanyak 2-4 helai dengan panjang mencapai 12 cm, karena itu elang Jawa disebut juga elang kuncung.

Ukuran tubuh elang Jawa dewasa sekitar 60-70 sentimeter, berbulu coklat gelap pada punggung dan sayap. Bercoretan coklat gelap pada dada dan bergaris tebal coklat gelap di perut. Ekornya coklat bergaris-garis hitam.

Masa bertelur tercatat mulai bulan Januari hingga Juni. Sarang berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat di cabang pohon setinggi 20-30 di atas tanah. Telur berjumlah satu butir, yang dierami selama kurang-lebih 47 hari. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.