Eks Kombatan JI Ajak Mahasiswa Jauhi Radikalisme

Eks kombatan ajak mahasiswa untuk mendukung polisi dan aparat penegak hukum memberantas terorisme.

SEMARANG- Sejumlah mahasiswa perguruan tinggi di Semarang diminta mewaspadai dan menghindari paham radikalisme.

Upacara HUT ke-73 Republik Indonesia sekaligus penerimaan mahasiswa baru Untidar Magelang, Jumat (17/8/2018). Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Kasubdit IV Ditintelkam Polda Jawa Tengah, AKBP Guki Ginting mengatakan, survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ada 15 kampus di Indonesia terkontaminasi ajaran radikalisme.

“Mahasiswa harus terus disadarkan agar mereka menyadari bahwa ajaran seperti itu harus dihindari,” kata Ginting dalam seminar antiterorisme yang yang digelar BNPT di kampus Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (20/9/2018).

Dalam seminar itu, hadir juga eks kombatan Jamaah Islamiyah Asia Tenggara, Abu Tholut. Dia mengatakan, salah satu organisasi terlarang yang menyebarkan radikalisme adalah ISIS.

“Di Indonesia ada organisasi terafiliasi ISIS yakni Jamaah Ansarut Taujid (JAT) sejak 2014,” ujar dia.

Menurut dia, ISIS merupakan perwujudan aliran Khawarij saat ini, karena tidak menghormati ulama dan orang lain yang lebih tua darinya. Ia mencontohkan, pengalaman terjangkit radikalisme pernah membawanya ke medan perang di Afghanistan. Ia tergabung JI pada 1985. Namun, sekarang ia sudah menolak paham radikalisme itu.

“Saya pernah bertemu dengan pengasuh pondok Ngruki, Abu Bakar Ba’asyir di Malaysia dan langsung melanjutkan keberangkatan ke Afganistan tanpa berpamitan dengan orangtua,” imbuhnya.

Ia mengingatkan agar mahasiswa berhati-hati dengan ajaran radikal dan mendukung aparat penegak hukum memberantas terorisme. (far)

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.