Duka Warga Magelang Kehilangan Suami dan Anak di Anyer

Pihak keluarga di Magelang tahu Heri dan keluarganya menjadi korban musibah tsunami Anyer dari tayangan di televisi.

MAGELANG – Duka mendalam dialami keluarga besar Heri Kristanto, yang tinggal di Kampung Karanggading RT/RW 2 Kelurahan Rejowinangun Selatan Kota Magelang. Heri Kristanto (46) bersama keluarganya menjadi korban keganasan bencana tsunami yang terjadi di pantai Anyer, Pandeglang Banten, akhir pekan lalu.

Suasana rumah duka korban bencana tsunami Selat Sunda di Magelang. Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Saat bencana itu terjadi, Heri yang merupakan salah satu manajer di PT PLN UPT Durikosambi mengikuti family gathering yang diadakan perusahaannya. Ia membawa serta istri, dan kedua putranya, Abisa Danurwindo (10) dan Abiyosa Lanang Kapindo (7).

Heri dan Abisa belum ditemukan. Sedangkan istrinya Frida Setyowati (46) harus pulang dengan membawa jenazah putra bungsunya, Abiyosa.

Isak tangis tidak terbendung saat ambulans yang membawa jenazah Abiyosa tiba di Karanggading, yang merupakan kampung halaman Heri, Senin (24/12/2018) siang. Frida hanya mampu menangis karena kebahagiaan yang sedang ia rasakan tiba-tiba saja terenggut oleh bencana tsunami.

Condro Cahyono (60) yang merupakan paman Heri mengatakan, jenazah Abiyosa setelah disalatkan di Karanggading dan Kebonpolo Kota Magelang, kampung halaman Frida, langsung dimakamkan di pemakaman umum Giriloyo. “Setelah pemakaman, Frida pulang ke rumah orang tuanya di Kebonpolo,” tutur Condro.

Ia menceritakan, keluarga Mariyadi-Sri Handayani, yang merupakan orang tua Heri, mengaku sempat berkomunikasi dengan korban pada Sabtu (22/12) malam, sekitar pukul 20.00. Saat itu Frida mengabarkan kekhawatirannya soal kondisi Gunung Anak Krakatau. Dia diminta keluarga di Magelang untuk segera menyelamatkan diri.

Mardiyono, adik Mariyadi yang lain menambahkan, oleh mertua perempuannya, Frida diminta menyelamatkan diri, karena diperkirakan sebentar lagi gunung di Selat Sunda itu akan meletus.

Mardiyono menceritakan, saat menonton Seventeen manggung, Frida mengaku berada di depan speaker. Tangannya memegang Abisa dan Abiyosa. Sedangkan Heri berada di sisi kanan agak ke belakang.

Tiba-tiba, datang air dari atas. Dia tidak bisa apa-apa. “Dia berpikir sudah meninggal. Sampai kemudian tersadar sudah di Puskesmas di Padeglang,” ceritanya.

Pihak keluarga di Magelang tahu Heri dan keluarganya menjadi korban musibah tsunami Anyer pada Minggu (23/12) sekitar pukul 09.00 dari tayangan di televisi. Pihak keluarga sempat mencoba menelepon telpon seluler milik Heri maupun Frida, tetapi tidak berhasil.

Kemudian ada kabar dari PLN kalau Frida sudah diketemukan di Puskesmas pada Minggu siang, sekitar pukul 10.00.  “Pihak keluarga kemudian  mengutus Rudi Prasetyo, untuk kembali ke Jakarta untuk mengecek keberadaan kakaknya. Saat itu, Rudy sudah sampai Cirebon dalam perjalanan mudik menuju Magelang,” katanya.

Mereka sempat mendengar kabar kalau Heri sudah ditemukan. Tetapi hingga saat ini kabar tersebut masih simpang siur. Mereka malah mendapat kabar penemuan Abiyosa yang sudah tidak bernyawa pada Minggu petang, sekitar pukul 19.00 wib.

“Kita langsung minta agar dibawa ke Magelang untuk pemakamannya. Kemudian jenazah Abiyosa dibawa ambulans lewat jalan darat dan sampai di Magelang tadi (kemarin), sekitar pukul 10.00. Ibunya yang selamat ikut dalam rombongan tersebut,” kata Condro.

Saat ini pihak keluarga berharap Heri dan anak pertamanya bisa ditemukan dalam kondisi selqmat. “Kita berdoa diberi yang terbaik. Mohon doa yang terbaik buat keluarga kami ya,” pinta Condro sembari menambahkan, selama ini Heri dan kelaurganya tinggal di Karangtengah, Tangerang. (MJ-24).

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.