‘Dompet Ajaib’ Bantu Tunanetra Deteksi Uang Palsu

Sejauh ini dompet ajaib karyanya telah mendapat respons positif dari kalangan tunanetra.

PROSESI wisuda yang digelar di Auditorium Universitas Negeri Semarang (Unnes) tampak lain dari biasanya, pada Rabu (12/9/2018). Acara yang sedianya diisi dengan rangkaian kuliah umum itu, seketika berubah menjadi ajang unjung kebolehan dari salah seorang mahasiswa setempat.

Rizky menunjukkan alat pendeteksi uang ciptaannya. Foto: metrojateng.com/fariz fardianto

Rizky Ajie Aprilianto, nama mahasiswa tersebut diminta maju ke depan. Dengan mantap ia memperlihatkan temuan ilmiahnya.

Sekilas tak ada yang istimewa. Sebuah dompet hitam ia genggam erat-erat sembari dipresentasikan kepada ribuan mahasiswa yang hadir.

Bentuknya simpel. Dompet itu dilengkapi kotak mesin kecil uvi serta sensor cahaya. Terdapat pula untaian perangkat sensor warna, mikro kontroler, Mp3 player, baterai hingga perangkat otomatis powerbank.

Dompet karya Rizky itu bernama Idopu atau Inovasi Dompet Pendeteksi Uang. “Sementara ini, dompet tersebut masih kita kembangkan supaya lebih simple agar mudah dibawa ke manapun,” akunya.

Pemuda yang meraih IPK 3,64 itu menjelaskan bila dompet ajaib tersebut diperuntukkan bagi para penyandang tunanetra. Musababnya, selama ini banyak penyandang tunanetra yang tertipu tatkala sedang berbelanja.

Dengan keterbatasan pengelihatan, mereka umumnya sulit membedakan keaslian lembaran mata uang kertas. Di hadapan para wisudawan, ia pun mempraktikkan cara kerja dompet ajaibnya.

Sinyal Deteksi

Mula-mula ia menyelipkan uang kertas pecahan seribu rupiah hingga seratus ribu ke dalam dompet. Kemudian alat sensor otomatis mengeluarkan sinyal deteksi. Alat yang terpasang pada dompet itu mengeluarkan suara yang berisi pesan nominal serta keaslian uang.

“Jika uang itu palsu berbunyi ‘awas uang palsu’, kalau asli akan menyebutkan nominal dan keterangan asli. Suaranya saya isi pakai suara google,” cetus lelaki berusia 22 tahun tersebut.

Ia mengklaim tingkat akurasi pendeteksian alatnya terhadap keaslian uang kertas mencapai 93,45 persen. Ia tinggal menyempurnakan bentuknya lebih kecil.

Untuk merancang dompet ajaib itu, ia mengaku butuh waktu sampai empat bulan. Ongkos yang ia butuhkan untuk menciptakan alat tersebut Rp 375 ribu sampai Rp 420 ribu.

Rupanya tak cuma dirinya seorang yang merancang dompet ajaib itu. Rizky juga dibantu oleh dua rekannya yakni Oky Putra Pamungkas, dan Nur Anita.

“Itu berhasil meraih medali perak kategori presentasi PIMNAS 31 Kemenristekdikti Tahun 2018,” imbuhnya.

Sejauh ini dompet ajaib karyanya telah mendapat respons positif dari kalangan tunanetra. Buktinya, ia telah mendapat pesanan oleh komunitas tunanetra di Semarang. Ia menjualnya senilai Rp 500 ribu.

Ia yang berasal dari Kabupaten Tegal itu kini telah meraih gelar sarjana di Unnes. Putra pasangan Slamet Kadan dan Taridah itu tak sekonyong-konyong mampu menang lomba karya ilmiah.

Ia sering mengasah kemampuannya dengan ikut lomba. Bahkan sudah 51 kali ikut ragam kontes. “Dan banyak menang,” ujar dia.

Belakangan ia ikut lomba demi mencari dana bagi ibundanya yang sakit stroke. Ia berharap, dapat melanjutkan cita-citanya dan dapat melanjutkan pendidikan lebih lanjut untuk dapat membahagiakan ibunya.

Rektor Unnes, Fathurrokhman mengapresiasi karya Rizky dan teman-temannya itu. Pihaknya mencoba melakukan hilirisasi agar alat itu bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Ia juga akan memfasilitasi beasiswa ke luar negeri. “Kemenristek Dikti juga beri fasilitas besar untuk S1 dan S2 yang punya inovasi dan pestasi,” pungkasnya. (fariz fardianto)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.