Ditangkap saat Hendak Bertarung Antar Geng

Mereka melakukan koordinasi melalui Grup WhatsApp (WA). Terbilang sadis, karena mereka tak segan menyerang siapa pun yang ditemui agar diakui oleh kelompok lain.

Sejumlah barang bukti senjata tajam yang disita oleh polisi dari anggota gengster remaja di Semarang. (Foto: Ahmad Khoirul Asyhar/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Dua kelompok yakni Geng 69 dan Geng Lamper yang ditangkap Polsek Tembalang Polrestabes Semarang usai mengeroyok seorang warga di Jalan Sambiroto Raya ternyata hendak bertarung dengan kelompok lain. Sebelum insiden pengeroyokan tersebut, Geng 69 rencananya akan meladeni tantangan kelompok Geng Pucanggading.

 

“Kelompok yang kami tangkap ini awalnya mau meladeni tantangan dari kelompok Pucanggading. Tantangan tersebut dilakukan melalui media sosial. Setelah itu di suatu tempat bertemu untuk berkelahi,” kata Kapolsek Tembalang Kompol Budi Rahmadi, Kamis (7/2/2019).

 

Tantangan yang diterima di media sosial tersebut kemudian ditanggapi. Geng 69 berkoordinasi melalui grup WhatsApp. Selain itu salah satu anggota Geng 69 juga mendatangi kelompok Lamper untuk diajak tawuran dengan Kelompok Pucanggading.

 

“Jadi geng 69 ini tidak ada ketuanya. Mereka spontan mengikrarkan diri menjadi Gangster 69. Mereka punya grup WA, koordinasinya lewat grup itu,” ungkapnya.

 

Geng 69 diketahui tidak memiliki basecamp. Kelompok tersebut lebih sering berpindah-pindah atau nomaden. Menurut Budi, anggota Geng 69 saat ini sudah ditangkap semua. Rata-rata anggota geng tersebut berusia mulai 16 tahun sampai 20 tahun.

 

“Mereka ini nomaden pindah-pindah, ketemu di mana langsung gesekan. Tidak ada ketuanya, jumlah anggotanya 19 orang dan sudah kami tangkap semua. Ada yang masih pelajar, ada juga yang sudah drop out,” paparnya.

 

Adapun aksi geng 69 tersebut cukup meresahkan. Selain berkelahi dengan kelompok lain, geng tersebut juga menyerang siapa pun yang ditemui di jalan. Motifnya sementara ini adalah mencari jati diri. Seolah-olah geng 69 ini diakui oleh geng yang baru bermunculan.

 

“Pengeroyokan di Sambiroto itu korbannya warga biasa yang melintas. Jadi Geng 69 dan Lamper ini sudah mendatangi kelompok Pucanggading tetapi tidak bertemu kelompok tersebut. Mereka ini mencari jati diri dan agar diakui oleh kelompok lain atau mencari bendera,” ungkap Budi. (aka)

 

 

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.