Dinas Perdagangan Ancam Lapak Pasar Rejomulyo Baru untuk Pedagang Lain

Bertahun-tahun polemik pedagang Pasar Rejomulyo tak kunjung usai.

Dinas Perdagangan Kota Semarang dipimpin Kepala Dinas Fajar Purwoto saat berdialog dengan perwakilan pedagang di Pasar Rejomulyo Baru, Rabu (13/2/2019). (Foto: Masrukhin Abduh/metrojateng.com)

SEMARANG – Upaya tegas berusaha dilakukan oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang terkait relokasi pedagang Pasar Rejomulyo. Bagi pedagang yang tetap tidak mau pindah dari Pasar Rejomulyo lama ke bangunan Pasar Rejomulyo yang baru, maka harus membuat pernyataan tertulis.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan, pedagang yang tidak mau pindah tersebut harus membuat pernyataan tertulis kepada Dinas Perdagangan. Sehingga tempat mereka kemudian nantinya bisa diberikan untuk pedagang di luar Pasar Rejomulyo alias untuk pedagang baru.

‘’Kepala Pasar nanti akan menyampaikan ke pedagang supaya membuat pernyataan jika tidak mau menempati Pasar Rejomulyo baru. Supaya pasar ini bisa difungsikan untuk pedagang dari pasar-pasar lain,’’ ujarnya saat berdialog dengan perwakilan pedagang di Pasar Rejomulyo Baru, Rabu (13/2/2019).

Fajar menegaskan, pihaknya tidak ambil pusing terkait dengan pedagang yang tidak bersedia menempati Pasar Rejomulyo Baru. Meskipun saat ini dari jumlah 66 pedagang Pasar Rejomulyo lama baru kurang lebih 30 pedagang yang mau pindah ke Pasar Rejomulyo baru.

‘’Makanya, kami meminta mereka segera masuk, kami juga butuh surat kepastian tertulis itu dari pedagang juga,’’ tegasnya.

Sementara itu, Tim Advokasi Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Kota Semarang, Zaenal Abidin Petir mengatakan, bahwa pada prinsipnya sebenarnya pedagang Pasar Rejomulyo bersedia pindah dan menempati bangunan Pasar Rejomulyo baru.

Namun, ada beberapa faktor yang menurutnya membuat pedagang belum bisa menempati dan berjualan di tempat yang disediakan di Pasar Rejomulyo baru. Salah satunya tentang luasan lapak yang dinilai pedagang belum layak dan sudah disampaikannya kepada Dinas Perdagangan.

‘’Kemudian loading, truk untuk bongkar muat susah di sini (pasar baru), kalau di pasar lama bisa leluasa. Terus pembuangan air di sini kecil, padahal pedagang ikan basah butuh air yang banyak dan pembuangan air yang besar. Kemudian bagi pedagang ikan kering, juga lantainya harus dialasi kayu dan di bawah kayu tanah, bukan keramik,’’ ungkapnya.

Menurutnya, konsep dan pembangunan Pasar Rejomulyo Baru sejak awal tidak melibatkan pedagang. Karena itu bangunannya belum bisa dimanfaatkan pedagang sampai sekarang meskipun sudah selesai dibangun.

‘’Padahal menurut Perpres 112/2007 tentang penataan pedagang tradisional termasuk pasar tradisional dan toko modern, harusnya ketika melakukan revitalisasi pasar harus melibatkan paguyuban pedagang,’’ katanya. (duh)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.