Dilanda Kemarau, Warga Tegal Konsumsi Air Sungai

Meski kondisinya keruh, warga tetap memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan rumah tangga.

TEGAL – Musim kemarau tak hanya menyebabkan lahan pertanian mengalami kekeringan, namun juga berdampak pada ketersediaan air bersih di masyarakat. Seperti yang dialami ratusan warga di Kabupaten Tegal, yang terpaksa memanfatkan air sungai yang kotor untuk kebutuhan rumah tangga.

Dua warga Kecamatan Kedungbanteng bekerjasama mengambil air di Sungai Sigentong untuk kebutuhan sehari-hari, lantaran mulai kesulitan mendapat air bersih saat musim kemarau. Foto : metrojateng.com/ adithya

Tak ada air bersih air sungai pun jadi. Begitulah kira-kira yang kini tengah dialami warga di sejumlah desa di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal. Dua orang warga Desa Sigentong, Jumat (21/6/2019) pagi, terlihat tengah mengambil air dari sungai setempat yang hampir mengering akibat musim kemarau.

Air sungai yang kondisinya keruh, diambil menggunakan ember timba kemudian dituangkan ke dalam beberapa jeriken. Agar lumpur sungai tidak terbawa, saat menciduk air perlu ekstra hati-hati. Warga terpaksa memanfaatkan air sungai ini, karena sumur warga mengalami kekeringan akibat musim kemarau.

Sungai Sigentong ini merupakan satu-satunya sumber air yang bisa dimanfaatkan warga, itupun bergilir tiga hari sekali menunggu air di sungai cukup untuk diambil. Meski kondisinya keruh, warga tetap memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan rumah tangga, seperti mandi dan mencuci pakaian atau perlengkapan makan.

Warga memanfaatkan Sungai Sigentong untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Foto: metrojateng.com/adithya

Menurut salah seorang warga, Walim, ada juga warga yang nekat memanfaatkan air sungai ini untuk memasak, karena keberatan jika harus memebeli air untuk memasak. Namun biasanya, air yang digunakan untuk memasak lebih dulu disimpan selama satu hari satu malam.

“Kalau yang buat masak ya disimpan semalam dulu, agar kotoran dan lumpurnya mengendap,” kata Walim kepada metrojateng.com.

Mengonsumsi air sungai tentu saja berdampak pada kesehatan. Warga kerap mengalami gatal-gatal, akibat setiap hari harus mandi dengan air sungai yang bercampur kotoran dan bakteri.

Ironisnya, pemerintah daerah setempat seolah tidak tanggap dengan keadaan warga. Bahkan, bantuan air bersih pun tidak rutin diberikan. (MJ-10)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.