Diduga Depresi, Ibu dan Anak di Magelang Dipasung dalam Kamar

Karena tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya, maka RSJ bertindak dengan mengevakuasi keduanya.

MAGELANG – Dua warga Dusun Jomboran Desa Sidorejo Kecamatan Tegalrejo Kabupaten Magelang, dievakuasi oleh petugas RSJ Prof Dr Soerojo, Rabu (11/9/2019). Ibu dan anak ini dipasung di dalam kamar karena diduga mengalami depresi.

Proses evakuasi pasien gangguan jiwa di Tegalrejo Kabupaten Magelang, Rabu (11/9/2019). Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

“Kita evakuasi agar mendapatkan perawatan yang paripurna,” kata Direktur Utama RSJ Prof dr Soerojo Magelang, Dr Erniarti, yang memimpin langsung evakuasi.

Erniarti mengatakan, ibu dan anak ini sudah lama dikurung dalam kamar dan dikunci dari luar (dipasung). Karena tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya, maka RSJ bertindak dengan mengevakuasi keduanya. Hal itu sesuai dengan UUD 1945, dimana semua warga negara harus mendapatkan hak yang sama, termasuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Pihak RSJ mengetahui ada ODGJ di pasung melalui aplikasi “Bagaspati Among Jiwo” atau pasungan gasak sejati untuk pasien pasung dan kegawatdaruratan psikiatri.

Aplikasi itu sudah diluncurkan sejak 10 Juli lalu. Jadi setiap warga bisa melaporkan ada ODGJ yang di pasung melalui aplikasi yang bisa di akses melalui smartphone ini.

Melalui aplikasi Bagaspati Among Jiwo, ada yang melaporkan ODGJ di Desa Sidorejo yang dipasung. Sehingga RSJ langsung bertindak cepat dengan mengevakuasi keduanya.

Proses evakuasi ODGJ berjalan cukup lancar. Setelah berkoordinasi dengan lepala desa setempat, Polsek dan Koramil Tegalrejo, petugas RSJ bersama dengan Dinas Sosial, Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) langsung menuju rumah keduanya.

Dr Erniati langsung menemui Muhroni (70), suami sekaligus ayah kandung ODGJ. Kepada Muhroni disampaikan bahwa istri dan anak perempuannya akan dirawat di RSJ dengan perawatan sebagaimana mestinya.

Menurut Erniarti, keduanya dipasung dengan cara dimasukkan dalam kamar dan dikunci dari luar. Sehingga ibu dan anak ini tidak bisa melakukan aktivitas selayaknya.

“Namun kita juga tidak boleh menyalahkan keluarganya juga, karena mungkin ada keterbatasan akses,” ungkapnya.

Ditambahkan, sejak aplikasi Bagaspati Among Jiwo diluncurkan, RSJ sudah mengevakuasi sebanyak 34 orang pasien penyakit jiwa dari berbagai kota, seperti Kota dan Kabupaten Magelang, Temanggung dan Kabupaten Semarang. Dari jumlah itu, sebanyak 23 karena dipasung sedangkan 11 orang karena kasus gawat darurat psikiatri.

Sementara, Muhroni mengatakan, istrinya mengidap gangguan jiwa sejak anak keduanya meninggal dengan cara tragis, yakni tercebur kolam. “Setelah itu istri menjadi depresi karena mungkin terlalu sedih kehilangan anaknya,” kata dia.

Sedangkan anak perempuannya mengalami gangguan jiwa setelah nyantri di Ponpes Tegalrejo. “Anak saya baru 6 bulan belajar di Ponpes Tegalrejo, tiba-tiba dibawa pulang oleh teman-temannya dengan kondisi yang sudah demikian (gangguan jiwa-red),” kata Muhroni. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.