Didemo, Driver Go-Jek Angkat Bicara

MAGELANG – Setelah Forum Komunikasi Awak Angkutan Magelang (Forkam) melakukan aksi protes ke Pemkot Magelang, terkait adanya ojek online berbasis aplikasi, kini giliran Paguyuban Driver Go-Jek bersuara. Paguyuban ini meminta agar Forkam tidak perlu khawatir, karena segmentasi antara ojek online dengan angkutan kota sangat berbeda.

“Sebenarnya bisa saling berdampingan. Tidak harus memusuhi seperti ini,” kata wakil Koordinator Paguyuban Driver Go-Jek Kota Magelang, Jumat, (29/9). Ia menyebutkan, pelanggan Go-Jek di Kota Magelang, 80 persen memanfaatkan jasa Go-Food. Sedangkan yang memakai layanan Go-Ride hanya 20 persen saja.

Bila dinilai tarif ojek online lebih murah dan dikhawatirkan mematikan angkot, hal itu tidak ada dasarnya.Tarif murah, terang Dwi Yoko, hanya di dapat saat pemakaian aplikasi untuk pertama kali. “Itu untuk promo, subsidi dari aplikasi. Memang harganya murah hanya Rp 3 ribu, namun setelah itu ke tarif minimal sebesar Rp 8 ribu,” terang Dwi Yoko.

Seperti diketahui, ratusan awak angkutan kota (angkot) yang tergabung dalam Forkam mendatangi Kantor Setda Kota Magelang, Kamis (28/9) lalu. Mereka meminta kejelasan terkait izin operasional ojek online, yang sebelumnya sudah tidak diberi rekomendasi oleh pemerintah daerah.

Forkam bersikukuh ojek online berbasis aplikasi tidak boleh beroperasi di Kota Magelang. Alasannya, karena berdampak pada berkurangnya pendapatan.

Dwi Yoko menyayangkan adanya tekanan dan intimidasi kepada driver Go-jek yang semakin hari semakin menjadi-jadi. “Rekan-rekan kami di lapangan banyak mendapatkan intimidasi saat bekerja, baik secara verbal maupun non-verbal,” ujar Dwi Yoko.

Ia menyebutkan, ada rekannya driver yang diintimidasi saat melintas di dekat Hotel Wisata Kota Magelang, oleh oknum tertentu pada Kamis (28/9) lalu. Helmnya sempat diminta, meski akhirnya dikembalikan lagi, karena terlihat polisi.

Karenanya, pasca protes Forkam, dari sekitar 900 driver Go-Jek yang beroperasi di wilayah kota dan kabupaten Magelang, hanya sekitar 20 persen yang beroperasi dalam kurun waktu dua hari terakhir. Mereka banyak yang merasa khawatir karena suasana yang belum kondusif.

Ia juga menekankan kepada driver yang beroperasi untuk tetap tenang dan tidak pelru menggunakan identitas Go-Jek terlebih dahulu. Bila di lapangan menemui intimidasi, para driver diminta untuk tidak melawan dan lebih menyerahkan kasus itu ditangani oleh aparat yang berwenang.

Iapun menyerahkan sepenuhnya langkah berikutnya kepada pemerintah. Apabila ojek online di hilangkan, maka pihaknya minta pemerintah untuk memberikan solusi. Karena sejauh ini ojek on line sudah menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

“Kalau mau dihilangkan pemerintah harus memberikan solusi kepada warga yang menggantungkan hidupnya pada ojek online,” pinta Dwi Yoko.Ia juga menyebutkan kalau respon dari masyarakat sangat bagus dengan keberadaan ojek online.

Apalagi, Kota Magelang dikenal sebagai kota jasa. “Adanya ojek online seharusnya pemerintah bangga karena keberadaannya banyak menawarkan jasa yang sangat membantu bagi konsumen,” tuturnya.Di sisi lain, selama beroperasi, Go-Jek online selalu menataai peraturan, tidak pernah melanggar zona merah,” kata Dwi Yoko. (MJ-24)

 

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

6 + 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.