Dibanderol Jutaan Rupiah, Bus RC Ini Mampu Melaju hingga 40 Km/Jam

Selain mampu melaju kencang sampai 40 kilometer per jam, bus garapan Joko juga kuat berjalan di tanjakan jalan raya sampai 100 meter lebih.

KECINTAAN terhadap sebuah pekerjaan, banyak orang yang akan melakukannya dengan totalitas tinggi. Namun, tak sedikit pula yang memilih mengabadikan sisi lain dari pekerjaannya tersebut pada sebuah kreasi kerajinan.

Miniatur bus buatan Joko Sumarno dilengkapi remote control dan dibanderol jutaan rupiah. Foto: metrojateng.com/fariz fardianto

Hal tersebut terlihat dari perjuangan Joko Sumarno. Berbekal pengalaman menjadi sopir bus PO Laju Prima, ia kemudian memilih menuangkan pengalamannya dalam kerajinan miniatur bus.

Yang patut dibanggakan lagi, miniatur bus buatannya bukanlah sembarangan. Joko menunjukan miniatur busnya yang sangat detail. Tiap bagian bus dibuat semirip mungkin. Dari setiap jengkal interiornya, jumlah kursinya hingga bodi bus. Catnya khusus memakai airbrus.

“Sudah empat tahun terakhir saya menekuni pembuatan miniatur bus. Semuanya saya buat secara manual. Mulai kursi-kursinya, interior, kaca sampai mesin-mesin di dalamnya. Karena bus yang saya buat dilengkapi dengan remote control (RC),” akunya, saat ditemui metrojateng.com, di rumahnya RT 08/RW V Kampung Lamongan Nomor 8, Sampangan Gajahmungkur, Rabu (12/9/2018).

Joko mengaku sangat mencintai pekerjaannya sebagai sopir bus. Berbagai tantangan saat mengemudikan bus selama lima tahun ia lakoni dengan telaten.

Terakhir ia dipercaya menjadi sopir bus antar kota dalam provinsi untuk jurusan Semarang-Wonogiri PP. “Dasarnya memang cinta pada bus. Lalu saya pikir-pikir kenapa enggak sekalian bikin miniatur bus yang ada RC-nya. Kemudian sejak 2014 sampai sekarang rutin menekuni usaha ini,” terangnya.

Semula ia membanderol harga sebuah bus RC sebesar Rp 500 ribu. Namun, seiring berjalannya waktu harganya melonjak jadi Rp 4-6 juta per buah.

Mahalnya harga bus buatannya lantaran mencari perlengkapan mesinnya remote controlnya juga tak mudah. Ia harus butuh modal Rp 3 juta untuk mendapatkan mesin yang memadai.

“Untuk mengakali pesanan yang terus meningkat, saya rutin membeli bahan-bahannya sendiri. Miniatur bus yang saya buat umumnya panjangnya 60 centimeter tingginya 18 centimeter dengan lebar 12 centimeter,” katanya.

Model Beragam

Modelnya pun beragam. Ada yang seri SHD, dobel jet bus, setra, hingga adi putro. Banyak pelanggannya yang datang memesan karena terkesan dengan kecanggihan bus buatannya.

Selain mampu melaju kencang sampai 40 kilometer per jam, busnya juga kuat berjalan di tanjakan jalan raya. “Daya jangkaunya sampai 100 meter lebih,”.

Pelanggannya kebanyakan dari Busmania yang memang memiliki kecintaan sendiri terhadap produk-produk bus yang beredar di Indonesia. Tak jarang para pengusaha karoseri mampir untuk membeli produknya.

Walau begitu, dalam proses pembuatannya ia kerap menemui hambatan. Rintangan terberat saat membuat interior bus. Karena minimnya jumlah pekerja, pembeli terpaksa harus inden selama tiga bulan.

“Sebab kerajinan seperti ini tidak bisa dibuat massal sekaligus. Perlu waktu lama. Makanya dalam sebulan saya hanya bisa menyelesaikan pesanan tiga sampai lima buah,” katanya.

Agar usahanya makin kuat, ia menggandeng rekannya dengan membuka bengkel kerajinan bus di Kawedanan, Boja Kendal. “Di sana ada bengkelnya,” ujarnya.

Kini ia punya tiga pegawai. Tiap tahun orderan yang ia terima tetap stabil. Paling ramai saat Lebaran. Dalam setahun ia mampu membuat 20 produk lebih.

“Keuntungan membuat satu bus bisa mencapai Rp 1 juta lebih. Paling laris model bus Adi Putro,” tutur bapak satu anak ini. (fariz fardianto)

Ucapan Lebaran 1440

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.