Dibalik Meningkatnya Pengangguran Di Jawa Tengah

 

Oleh : Hayu Wuranti

Virus corona terkonfirmasi masuk Indonesia pada hari Senin tanggal 2 Maret 2020 saat Presiden Joko Widodo menyatakan ada dua warga Indonesia yang positif terinfeksi Covid-19. Saat ini covid-19 telah menjadi pandemi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sedangkan di Jawa Tengah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam konferensi pers  pada tanggal 13 Maret 2020, mengonfirmasi satu warga Surakarta yang meninggal karena terinfeksi Covid-19 (virus Corona). Untuk mengurangi dampak pandemi covid-19, pemerintah Jawa Tengah memberlakukan pembatasan sosial di berbagai aspek yaitu diterapkannya school from home (SFH) dan work from home (WFH). Bahkan pada bulan April, mulai diterapkan pembatasan kegiatan masyarakat.

 

Pemerintah sudah menghitung dampak terburuk virus corona dengan skenario berat hingga lebih berat. Yang jelas, pandemi Covid-19 meningkatkan jumlah kemiskinan dan pengangguran. Padahal dalam 5 tahun ini, pemerintah terbilang sukses untuk menekan angka kemiskinan dan penganguran. Namun hadirnya Covid-19, menekan semua perekonomian di berbagai negara. Melemahnya pertumbuhan ekonomi akibat terkontraksinya beberapa sektor perekonomian telah berpengaruh terhadap meningkatnya pengangguran.

 

Meningkatnya Pengangguran di Jawa Tengah

Fenomena meningkatnya pengangguran terlihat dari hasil analisis big data, dimana selama periode Januari – April 2020, jumlah iklan lowongan kerja pada seluruh sektor secara konsisten mengalami penurunan. Disamping itu terdapat peningkatan pencarian kata “kartu prakerja” di bulan April, mengindikasikan adanya lonjakan pekerja yang terdampak Covid-19 di bulan April 2020. Sementara itu, hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah pada bulan Februari 2020 diperoleh data dalam setahun terakhir, secara absolut pengangguran bertambah sekitar 14 ribu orang, akan tetapi kenaikan pengangguran lebih rendah dibandingkan kenaikan jumlah penduduk yang bekerja sehingga angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) hanya naik sebesar 0,03 persen poin menjadi  4,25 persen pada Februari 2020, dibandingkan dengan Februari 2019. TPT adalah indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran, yang diukur sebagai persentase jumlah penganggur/pencari kerja terhadap jumlah angkatan kerja. Sedangkan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran. Kegunaan dari indikator pengangguran terbuka ini baik dalam satuan unit (orang) maupun persen berguna sebagai acuan pemerintah bagi pembukaan lapangan kerja baru. Selain itu, perkembangannya dapat menunjukkan tingkat keberhasilan program ketenagakerjaan dari tahun ke tahun. Lebih penting lagi, indikator ini digunakan sebagai bahan evaluasi keberhasilan pembangunan perekonomian, selain angka kemiskinan. Sesuai dengan SAKERNAS, TPT terdiri dari empat komponen. Pertama, mereka yang tidak bekerja dan mencari pekerjaan. Kedua, mereka yang tidak bekerja dan mempersiapkan usaha. Ketiga, mereka yang tidak bekerja, dan tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Keempat, mereka yang tidak bekerja, dan tidak mencari pekerjaan karena sudah diterima bekerja, tetapi belum mulai bekerja.

 

TPT perkotaan (5,02 persen) lebih tinggi jika dibandingkan TPT perdesaan (3,46 persen). Namun TPT perdesaan pada tahun ini meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya  yang hanya tercatat sebesar 2,99 persen. Meningkatnya TPT di daerah perdesaan akibat pergeseran puncak musim hujan yang menyebabkan masa panen dan masa tanam padi turut bergeser, sehingga pekerja sektor pertanian yang sebagian besar berada di daerah perdesaan dalam kondisi sedang tidak bekerja. Dari sisi pendidikan, TPT terendah sebesar 2,53% terdapat pada penduduk berpendidikan SD ke bawah, sementara TPT tertinggi sebesar 7,50% pada jenjang pendidikan SMK. Hal yang menarik perhatian adalah meningkatnya secara signifikan TPT sarjana menjadi 7,37 persen dari 4,86 persen pada tahun sebelumnya. Meningkatnya secara signifikan TPT sarjana disebabkan aktivitas ekonomi pada beberapa sektor yang banyak menyerap tenaga kerja sarjana mulai mengalami goncangan sehingga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Beberapa sektor yang terindikasi mengalami dampak covid-19 antara lain : perdagangan besar dan eceran; industri pengolahan; transportasi dan pergudangan serta penyediaan akomodasi dan makan minum.

 

Untuk mengatasi lonjakan pengangguran, pemerintah harus melakukan dua hal yakni menjaga permintaan dan mempertahankan ketersediaan pasokan. Oleh karena itu, pemerintah harus mengeluarkan insentif-insentif yang mampu mempertahankan daya beli masyarakat. Di sisi lain, pemerintah harus menjamin ketersediaan bahan baku dan tidak menutup seluruh aktivitas produksi. Arus barang logistik juga harus dipastikan kelancarannya meskipun ada kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat. Paling tidak aktivitas produksi tidak dihentikan seluruhnya, jika industri masih bisa beroperasi dan memiliki pasar, mereka wajib menerapkan protokol kesehatan. Untuk mempercepat pemulihan ekonomi, pemerintah perlu mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan perekonomian dari keterpurukan.(*)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.