Dibalik Defisit Neraca di Jawa Tengah

Oleh : Yusnita Dewanti  

Selama 2018, impor migas ke Jawa Tengah menyumbang 18,90 persen dari impor migas secara nasional

KINERJA perdagangan luar negeri selama tahun 2018 mendapat sorotan belakangan ini. Hal ini tak lain karena Badan Pusat Statistik merilis data neraca perdagangan sepanjang tahun 2018 yang mengalami defisit sebesar  US$ 8,57 miliar secara nasional. Defisit nasional ini adalah yang terbesar sejak tahun 1975. Lalu bagaimana dengan neraca perdagangan di Jawa Tengah?

Aktivitas ekspor Jawa Tengah terlihat di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. (Foto: dokumen metrojateng.com)

Neraca perdagangan Jawa Tengah menyumbang 3,66 persen ekspor nasional dan 7,84 persen impor nasional selama tahun 2018. Kondisi neraca perdagangan Jawa Tengah ternyata tak jauh beda dengan kondisi neraca perdagangan nasional. Terhitung sampai dengan akhir Desember 2018, neraca perdagangan Jawa Tengah defisit sebesar US$ 8,19 miliar.

Dari angka tersebut, sebanyak 67 persennya adalah defisit dari komoditas migas dan 33 persen dari komoditas non migas. Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi neraca perdagangan Jawa Tengah secara total selalu dalam posisi defisit karena besarnya impor komoditas migas di Jawa Tengah .

Hal ini tidak lepas dari posisi  Jawa Tengah di mana terdapat kilang minyak di Cilacap. Menurut PT Pertamina, kilang Cilacap ini memasok sekitar 34 persen dari kebutuhan  kebutuhan BBM nasional (kurang lebih 60% kebutuhan BBM di Pulau Jawa). Sehingga bahan bakar yang diimpor dari luar negeri untuk kebutuhan BBM nasional banyak yang dibongkar melalui pelabuhan Cilacap.

Selama 2018, impor migas ke Jawa Tengah menyumbang 18,90 persen dari impor migas secara nasional.  Hal inilah yang menjadi salah satu sebab neraca perdagangan Jawa Tengah sering dalam posisi defisit.

Meskipun demikian, impor migas bukan menjadi satu satunya penyebab defisitnya neraca perdagangan Jawa Tengah selama tahun 2018. Neraca perdagangan non migas sepanjang 2018 juga tercatat masih mengalami defisit.

Defisit non migas selama 2018 tercatat sebesar US$ 2,71 miliar. Angka itu lebih besar tiga kali dari angka defisit non migas tahun 2017, yaitu US$ 701,68 juta.

Apakah hal itu demikian dikatakan buruk?

 

Barang Impor Jawa Tengah

Sebelum kita ambil kesimpulan, ada baiknya kita telaah lebih lanjut. Barang apa saja yang diimpor melalui Jawa Tengah, sehingga semakin memperbesar gap antara ekspor dan impor?

Menurut BPS, barang impor dikelompokkan dalam tiga kategori berdasar penggunaan. Lebih sering disebut dengan BEC (Broad Economic Category). BEC membagi barang impor menjadi; barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal. Dari komposisi ketiga kategori itu, dapat dilihat kegunaan barang-barang yang diimpor ke Jawa Tengah.

Bahan baku adalah bahan yang digunakan untuk membuat produk yang merupakan bagian terbesar dari barang hasil produksi. Sedangkan bahan penolong adalah bahan-bahan yang sifatnya hanya membantu kelancaran proses produksi suatu barang.

Menurut data BPS tahun 2018, sebanyak 80,63 persen barang yang diimpor ke Jawa Tengah merupakan bahan baku/penolong. Sementara 12,80 persennya merupakan barang modal dan 6,57 persen adalah barang konsumsi.

Wujud bahan baku/penolong terbesar yang diimpor ke Jawa Tengah selama 2018 adalah bahan bakar (BBM) (47,19 persen), kapas (5,82 persen), alat listrik dan bagiannya (5,09 persen) dan plastik dan barang dari plastik (5,07 persen).

Barang modal yang diimpor ke Jawa Tengah selama 2018 berupa  mesin, pesawat mekanik dan bagiannya (72,79 persen) serta mesin alat listrik dan bagiannya (13,39 persen). Barang impor untuk konsumsi persentasenya tercatat paling kecil diantara dua kategori lainnya.

Selama tahun 2018 barang konsumsi yang masuk melalui pelabuhan di Jawa Tengah paling banyak adalah produk pakaian, sepeda, produk olahan makanan dan perlengkapan/barang dari plastik.

Apabila dilihat dari sisi penggunaan barang yang diimpor ke Jawa Tengah, maka sebenarnya tidak ada yang salah dengan defisit Jateng, karena barang yang diimpor adalah jenis bahan baku/penolong yang digunakan untuk proses keberlangsungan produksi yang akan menghasilkan output/nilai tambah perekonomian di Jawa Tengah.

 

Kurangi Impor Migas, Naikkan Ekspor Non Migas

Tingginya defisit migas secara detail bisa terjelaskan terkait kebutuhan BBM nasional. Sehingga langkah yang paling tepat mengurangi impor bahan baku migas adalah dengan menaikkan produk minyak mentah dalam negeri.

Hal itu untuk mencukupi kebutuhan bahan baku pada kilang minyak Cilacap. Dengan asumsi, produksi minyak mentah dari sumur-sumur minyak dan pengeboran yang dilakukan Pertamina di wilayah Indonesia, digunakan sebagai bahan baku pengolahan minyak oleh Pertamina. Artinya, tidak di ekspor.

Defisit neraca perdagangan bisa dikurangi dengan menaikan ekspor komoditas non migas secara optimal. Yakni dengan memberikan kemudahan akses bagi pelaku ekspor dan amnesty pajak pada komoditas tertentu yang potensial di Jawa Tengah.

Langkah selanjutnya adalah meningkatkan penggunaan bahan baku dan penolong dengan muatan local. Sehingga mengurangi ketergantungan impor pada komoditas yang tersedia di Jawa Tengah maupun Indonesia. (*)

——

Tentang Penulis. Yusnita Dewanti adalah lulusan Magister Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Universitas Diponegoro. Bekerja sebagai Fungsional Statistisi Muda, BPS Provinsi Jawa Tengah. Ia dapat dihubungi melalui email : [email protected]

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.