Di Era Milenial, Bahasa Gaul jadi Wujud Ragam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia berkembang terus karena menyerap dari bahasa lain, baik asing maupun bahasa-bahasa daerah

SEMARANG – Tantangan terberat yang sedang dihadapi bangsa Indonesia di era milenial ialah memperkuat eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Oleh karenanya, Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Tirto Suwondo mengatakan sedang berupaya memasukian kata serapan bahasa asing menjadi dialog bahasa Indonesia.

Ilustrasi

“Bahasa Indonesia kan berkembang terus karena menyerap dari bahasa lain, baik asing maupun bahasa-bahasa daerah lainnya. Kita tugasnya mengusulkan kata-kata tertentu untuk dimasukkan dalam serapan bahasa. Misalnya kata ganti gawai untuk gadget. Kalau ternyata gawai tidak laku, maka opsinya mengambil kata asing tersebut yang disesuaikan dengan pengucapan kita,” kata Tirto, Minggu (28/10/2018).

Menurutnya di era milenial, setiap generasi muda telah hidup pada era yang berbeda. Dalam artian bahwa setiap anak muda digital jarang tersentuh pembelajaran sejarah bangsa Indonesia sehingga mereka tidak pernah ingat perjalanan panjang sejarah bangsanya sendiri.

Ia menyatakan kondisi itulah yang membuat konsep pemikiran mereka cenderung berbeda ketimbang generasi pada era sebelumnya.

Pihaknya mengaku harus menyesuaikan perubahan zaman supaya bahasa Indonesia tetap bisa dimanfaatkan dari masa ke masa.

“Kebutuhan yang berkembang saat ini ternyata tidak cukup hanya dengan pengucapan bahasa Indonesia saja. Kita pun harus menyadari bila tidak hanya pelajar, tetapi justru dari pelaku ekonomi yang berkegiatan di dunia bisnis juga sudah menggunakan dialog di luar bahasa Indonesia. Kita melihat dialog-dialog dalam bahasa gaul yang digunakan setiap hari sudah menjadi salah satu ragam bahasa Indonesia,” terangnya.

Meski begitu, ia mengingatkan kepada semua generasi muda supaya tetap memperkuat slogan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Hal ini tertuang dalam regulasi yang ditetapkan pemerintah dalam UU Nomor 24 Tahun 2009.

“Walau penduduk Indonesia berasal dari berbagai bahasa yang memuat unsur sastra daerah, jadinya kita bisa menggunakan dialog dengan serapan-serapan bahasa daerah juga,” tandasnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.