Dewan Kaji Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Selama ini pengelolaan sampah hanya sebatas dikumpulkan di tempat pembuangan sementara (TPS).

SEMARANG – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Supriyadi, menyatakan pihaknya sedang membuat kajian tentang implementasi sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Diharapkan nantinya produksi sampah di Ibu Kota Jawa Tengah ini tidak terus meningkatkan tiap tahunnya.

Ketua DPRD Kota Semarang H. Supriyadi, Ssos, MA didampingi pimpinan saat memimpin rapat paripurna dengan agenda persetujuan Perda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Semarang TA 2018.

‘’Kajian ini sangat penting, tujuannya agar pengelolaan sampah tidak hanya mengandalkan pemerintah saja tetapi juga melibatkan masyarakat,’’ katanya, Rabu (7/8/2019).

Dia mengatakan, banyak bagian-bagian dari sampah yang bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi bernilai ekonomi. Namun selama ini pengelolaan sampah hanya sebatas dikumpulkan di tempat pembuangan sementara (TPS). Lalu dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) Jatibarang sehingga tiap tahun jumlahnya terus bertambah.

‘’Sampah bisa dikelola menjadi pupuk organik. Sementara sampah anorganik bisa didaur ulang atau dimanfaatkan untuk kerajinan yang memiliki nilai ekonomis,’’ kata politikus PDI Perjuangan itu.

Dengan menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini maka banyak manfaat yang bisa diambil. Menurutnya, salah satunya bisa memperpanjang umur TPA Jatibarang.

Sampah yang terus bertambah, tanpa dibarengi pengelolaan maksimal, kini luasan TPA yang bisa dimanfaatkan semakin berkurang. Sebab, sampah di Kota Semarang mengalami peningkatan,’’ jelasnya.

Setiap harinya, UPT Pemrosesan Akhir Sampah di Dusun Bambangkerep, Kedungpane, menimbang setidaknya sampah yang masuk ke TPA Jatibarang mencapai kisaran 800 ton hingga 1.000 ton. Sementara tahun ini naik hingga mencapai sekitar 1.200 ton.

Petugas Timbang UPT Pemrosesan Akhir Sampah di TPA Jatibarang, Suprapto, pernah mengatakan, sampah organik masih mendominasi. Jumlahnya mencapai 60 persen dari total sampah yang masuk. Diikuti sampah plastik dan anorganik lainnya.

‘’Faktor yang memengaruhi banyaknya jumlah sampah yaitu pertumbuhan penduduk yang tinggi. Di samping itu, urbanisasi juga menyebabkan Kota Semarang memproduksi sampah dalam jumlah besar,’’ jelasnya.(duh)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.