Dewan Desak Pengembang Perumahan Sediakan Lahan Pemakaman

Setidaknya perlu ada dua persen dari luas lahan perumahan harus dijadikan sebagai lokasi makam.

SEMARANG – Lahan permukiman yang dibangun developer atau pengembang di Kota Semarang semakin banyak. Namun sayangnya berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan pemakaman karena pengembang kadang tidak menyediakannya.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono. Foto: metrojateng.com/dok

Kondisi tersebut menjadi sorotan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang. Mereka menilai harus ada peran serta pengembang dalam memenuhi kebutuhan lahan makam khususnya bagi warga perumahan tersebut.

‘’Para pengembang perumahan harus menyisihkan lahannya untuk pemakaman. Kalau ada pengembang yang membangun lahan makam, saya kira itu juga sekaligus sebagai satu inovasi penawaran mereka kepada masyarakat,’’ kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, Senin (9/12/2019).

Suharsono menyebutkan, setidaknya perlu ada dua persen dari luas lahan perumahan harus dijadikan sebagai lokasi makam. Sehingga hal itu bisa membantu Pemerintah Kota Semarang dalam memenuhi kebutuhan makam.

Lebih lanjut, Suharsono meminta Pemkot Semarang mulai memetakan kebutuhan lahan pemakaman selama 50 tahun ke depan. ‘’Berapa luas yang dibutuhkan dan titiknya dimana sehingga warga merasa aman ketika ada perhatian dari Pemkot,’’ ujarnya.

Saat ini Pemkot Semarang berusaha menggratiskan retribusi pemakaman melalui Peraturan Wali Kota (Perwal) nomor 469/1006 tahun 2019. Ia pun mengapresiasi kebijakan tersebut karena meringankan beban masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Namun perlu diketahui, dia mengingatkan bahwa kebijakan pengembang harus menyediakan lahan pemakaman dan penghapusan retribusi pemakaman tersebut, belum tercantum dalam Peraturan Daerah (Perda).

Karenanya dia menilai, Perda yang saat ini berlaku yakni Perda nomor 3/2000 perlu dikaji lebih mendalam. “Perda lama belum mengatur tentang pengembang makam swasta, belum juga mengatur penghapusan retribusi makam. Karena itu, perlu dikaji lebih mendalam,’’ tandasnya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.