Derita Kelainan Tulang Belakang, Caisar Habiskan 23 Tahun Berbaring di Ranjang

image

SEMARANG – Berbaring berjam-jam pasti akan membuat pegal dan lelah. Hal itulah yang harus dialami oleh Caisar Winugrah. Tak tanggung-tanggung, Caisar sudah berbaring di ranjangnya selama 23 tahun hidupnya.

Bukan karena malas, tapi karena kelainan tulang belakang yang dialaminya sejak usia 8 bulan. Agustina, ibunda Caisar mengaku bahwa ia dan almarhum suaminya baru tahu kalau buah hatinya itu mengalami kelainan tulang belakang. Kelainan itu adalah lemahnya tulang belakang Caisar sehingga ia tidak mampu mengangkat kepalanya juga menggerakkan anggota tubuhnya yang lain.

“Lahir normal dan sehat, tapi saat periksa rutin semacam posyandu ya di rumah sakit, ternyata Caisar tidak bisa mengangkat kepalanya seperti anak lain,” ungkap Agustina kepadametrosemarang.comRabu (27/6) sore.

Sejak divonis mengalami kelainan tersebut, Caisar kecil harus mengikuti fisioterapi dua kali dalam seminggu selama sebelas tahun. Namun hambatan biaya membuat Agustina tidak mampu lagi membiayai pengobatan Caisar. Ia dan suaminya bahkan harus menjual rumah yang mereka tempati.
Selama 23 tahun penderitaan Caisar, Agustina mengaku tidak pernah meminta bantuan pada siapapun bahkan pada tetangga sekali pun.

“Prinsip saya dan suami memang untuk tidak meminta bantuan walau kami kesusahan,” imbuh Agustina.

Kendati tidak dapat menggerakkan tubuhnya namun Caisar dapat berkomunikasi dengan baik. Bahkan sekarang ia sudah bisa memiringkan badannya walau dengan susah payah. Ia bahkan dapat memahami nama-nama hewan dalam bahasa Inggris berkat siaran televisi yang ditontonnya.

Barulah saat suaminya, Sukiman meninggal pada April lalu karena stroke bantuan mulai mengalir. Kematian suaminya membuatnya tidak dapat mencari nafkah. Sehari-hari ia hanya berjualan bubur sayur dan beberapa jenis makanan. Namun sejak kematian Sukiman ia tidak bisa berjualan lagi. Kendati bantuan mulai berdatangan di rumah kecilnya di Dawung RT 3 RW 3 Kelurahan Kedung Pane Kelurahan Mijen, namun kehidupannya masih cukup memprihatinkan.

“Mulai pada ke sini sejak Senin, sejak ada wartawan yang datang,” imbuh Agustina.

Bukanlah bantuan materi yang dibutuhkan Agustina. Tapi orang yang mau merawat Caisar, putra satu-satunya. Ia mengaku takut jika ia meninggal tidak ada yang akan merawat Caisar. Sanak keluarganya sudah tidak ada, hanya tinggal dia dan Caisar saja. Terlebih Agustina ternyata mengidap myom, yang besarnya sebesar telur bebek.

“Kalau saya dioperasi, siapa yang bisa jaga Caisar, saya takut setelah saya tidak ada siapa yang akan merawatnya,” papar Agustina sambil menangis.

Sebenarnya ia sudah mendapat rujukan untuk melakulan operasi sebelum suaminya meninggal. Tapi operasi harus ditunda dan dijadwalkan ulang. Ia mengaku puskesmas Mijen yang membantunya mengurus rujukan untuk operasi.

“Nanti saat saya operasi, Caisar akan di rawat di puskesmas agar ada yang rawat,” imbuhnya.

Ia bahkan sudah merencakan masa tuanya agar dimasukkan ke panti jompo saja. Karena sudah tak ada lagi yang bisa mengurusnya. Sementara untuk Caisar ia masih belum tahu bagaimana ke depannya.
Hingga saat ini pemerintah Kota Semarang belum melakukan kunjungan ke rumah Agustina. Meski menurut Agustina sudab ada rencana kunjungan dari walikota tapi hingga kini belum terlaksana. (Vit)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 4 = 5

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.