Demi Keamanan, Rekonstruksi Pembunuhan Digelar di Mapolsek Semarang Utara

Tersangka memeragakan sebanyak 18 adegan yang merupakan rangkaian kronologi hingga terjadi pembunuhan.

Tersangka Bagus Aditya alias Ucil memeragakan adegan pembacokan yang mengakibatkan korban Dean Fagih Putra tewas. Adegan tersebut diperagakan dalam rekonstruksi kejadian yang digelar di Mapolsek Semarang Utara.(metrojateng/Ahmad Khoirul Asyhar)

 

SEMARANG –¬†Bagus Aditya alias Ucil (22), tersangka kasus penganiayaan hingga mengakibatkan Dean Fagih Putra (16) menjalani rekonstruksi kejadian di halaman Mapolsek Semarang Utara, Kamis (14/2/2019). Penyidik menggelar rekonstruksi di Mapolsek Semarang Utara atas dasar faktor keamanan.

“Rekonstruksi ini dilakukan di Mapolsek Semarang Utara atas pertimbangan keamanan. Mengingat situasi dan kondisi, serta untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan jika rekonstruksi digelar di lokasi kejadian (Jalan Boom Lama). Terkait tempat ini sudah kami koordinasikan dengan Jaksa Penuntut Umum dan diperbolehkan,” kata Kanit Reskrim Polsek Semarang Utara, AKP Supriyadi, saat ditemui usai rekonstruksi.

Ada 18 adegan yang diperagakan oleh tersangka dan sejumlah saksi terkait peristiwa yang terjadi di Jalan Boom Lama, Semarang Utara, tersebut. Mulai adegan saat korban Fagih tiba di lokasi bersama rekan-rekannya, terjadi cekcok dengan sekelompok orang di Jembatan Boom Lama, hingga pembacokan yang dilakukan tersangka terhadap korban.

“Rekonstruksi ini dilakukan untuk melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke kejaksaan. Total ada 18 adegan. Pembacokan terjadi pada adegan 15. Tersangka membacok korban menggunakan clurit sebanyak dua kali. Pertama kena punggung sebelah kiri, kedua kena pinggang sebelah kiri,” ungkapnya.

Peristiwa yang mendewasakan Fagih terjadi pada hari Sabtu, 29 Desember 2018, lalu. Berawal saat korban dan dua rekannya, Albi (17) dan Gery (17) berboncengan mengendarai sepeda motor. Saat melintas di jembatan Boom Lama, mereka bertemu dengan sekelompok orang yang nongkrong. Setelah itu terjadi cekcok antara kelompok korban yang merupakan Geng 69 dan kelompok NewTik.

Keributan tersebut membuat warga sekitar terganggu, salah satunya tersangka Bagus uang saat itu tidur di rumahnya. Bagus terbangun kemudian keluar rumah untuk mencari tahu. Ia mendapat informasi kalau kampungnya diserang oleh kelompok korban.

“Saya emosi, terus balik ke rumah ambil senjata kemudian mengejar orang yang katanya melempari batu itu. Waktu saya kejar, motor mereka mogok. Setelah dekat langsung saya bacok dua kali ke pinggang dan punggung korban. Setelah itu saya pulang ke rumah. Saya tidak kenal, ini karena solidaritas terhadap kampung saya,” terang pria yang bekerja sebagai seorang sekuriti di sebuah gudang daerah Boom Lama, Semarang Utara, tersebut.

Terkait kasus ini, tersangka Bagus dijerat Pasal 76 C juncto Pasal 80 ayat (3) UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang kekerasan terhadap anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara subsider Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan orang meninggal dunia dengan ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara. (aka)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.