Demam Berdarah Mengganas, 25 Anak Terkapar di RSUD Wongsonegoro

Fenomena penularan penyakit demam berdarah terus meningkat perubahan cuaca dan pergantian musim. 

Seorang anak saat dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro akibat terkena DBD. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Setelah sejumlah warga Sumurejo Gunungpati terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD), kali ini giliran anak-anak di daerah perbatasan Kota Semarang mengalami hal serupa. Bahkan, terdapat 25 anak-anak yang harus dirawat di Bangsal Nakula III RSUD KRMT Wongsonegoro sejak awal Januari 2019.

 

Wakil Direktur Pelayanan RSUD KRMT Wongsonegoro, M Abdul Hakam, mengungkapkan lonjakan pasien anak yang terkena DBD cukup signifikan. Sebab, DBD merupakan penyakit yang rentan membuat kekebalan tubuh anak-anak menurun.

 

“Sampai hari ini total pasien DBD yang dirawat di rumah sakit kami sudah ada 28 pasien. Tapi 25 pasien di antaranya merupakan anak-anak. Tiga orang dewasa. Lonjakannya luar biasa,” tuturnya, saat ditemui di ruang kerjanya, Lantai V RSUD Wongsonegoro, Senin (14/1/2019).

 

Para pasien DBD rata-rata dirawat dengan jangka waktu bervariasi. Perawatan tergantung pemulihan trombosit tiap pasien.

 

Pihaknya saat ini masih rutin memantau perkembangan pasien DBD secara kontinyu melalui aplikasi khusus yang tersambung dengan database layanan medis rumah sakit.

 

Ia pun memperkirakan fenomena penularan penyakit demam berdarah saat ini sedang meningkat seiring adanya perubahan cuaca yang cepat menjadi musim penghujan.

 

“Kalau melihat fenomenanya, saat ini mulai tinggi lagi. Karena ini penyakit musiman. Belum bisa dikatakan KLB karena ada kriteria tertentu. Termasuk ada data kematian dan penularan dalam angka maksimum,” tuturnya.

 

Pihak rumah sakit telah menyediakan sejumlah kasur di bangsal kelas satu sampai tiga untuk menampung para pasien. Ada pula 12 kasur yang disiapkan bagi pasien DBD kategori berat.

 

Pasien DBD yang dirawat di RSUD Wongsonegoro rata-rata berasal dari daerah perbatasan Semarang dengan Demak, Grobogan dan Kudus. “Rumah sakit kita yang jadi rujukan bagi mereka,” ujar Hakam.

 

Ia menyarankan kepada masyarakat untuk meningkatkan gaya hidup sehat terutama menggalakan kegiatan 3M sembari saling berupaya mengingatkan anggota keluarga agar tetap menjaga kebersihan rumah.

 

“Kami sudah menggencarkan pencegahan DBD dengan membekali unit dinas lingkungan Pemkot Semarang,” katanya.

 

Sedangkan Isnaini Hikmah, seorang pasien DBD masih tergolek lemas di Bangsal Nakula III RSUD Wongsonegoro. Bocah perempuan itu ditemani kedua orangtuanya di samping tempat tidurnya.

 

Munawir, ayahandanya mengaku anaknya sudah dirawat lima hari terakhir. “Gejalanya suhu badannya meninggi saat berada di salah satu ponpes di wilayah Purwodadi. Setelah dibawa ke sini, dia ternyata didiagnosa kena demam berdarah dan ada gejala usus buntu juga,” terangnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo masih terus mengumpulkan data pasien yang terkena DBD masing-masing kabupaten kota.

 

Ia menambahkan jika menemukan ciri-ciri demam selama dua hari tanpa batuk dan pilek, biasanya dokter melakukan diagnosa awal DBD. “Hal itu untuk pencegahan meski hasil diagnosa akhir di rumah sakit berbeda,” katanya. (far)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.