Daya Magis Makam Ki Ageng Pandanaran Jadi Incaran Para Caleg

Sejumlah pejabat penting di Kota Semarang sering berziarah di makam tokoh besar ini.

Juru kunci, Suwarno saat menunjukan kijing makam Ki Ageng Pandanaran beserta istri dan para kerabat dekat. (Foto: Fariz Fardianto/metrojateng.com)

SEMARANG – Pemilihan umum 2019 akan digelar sebentar lagi. Para calon legislatif mulai berusaha sekuat tenaga mendulang suara di seluruh pelosok Jawa Tengah.

Rumah-rumah warga disambangi. Sejumlah pondok pesantren tak luput dari kedatangan mereka. Selain memaksimalkan tenaga dan pikirannya, tak jarang ada caleg yang menyambangi tempat-tempat sakral. Salah satunya Makam Ki Ageng Pandanaran di Jalan Mugas Dalam II, Mugasari, Semarang.

Suwarno adalah seorang saksi mata yang kerap memergoki para caleg datang ke makam pendiri Kota Semarang tersebut.

Ia yang sudah jadi kuncen Makam Ki Ageng Pandanaran sejak puluhan tahun itu hafal betul dengan gerak-gerik caleg yang ingin meminta doa ke makam sang kiai.

Mimbar yang dipakai semedi oleh para peziarah termasuk orang-orang yang ingin melanggengkan keinginannya menjadi anggota legislatif. (Foto: Fariz Fardianto/metrojateng.com)

“Banyak peziarah yang sering nyekar ke sini. Tujuannya ya tergantung masing-masing orang. Ada yang minta usahanya tambah maju, ada pegawai dan pejabat minta kesuksesan. Sampai ada orang yang mau nyaleg juga sering ke sini. Biasanya satu dua Minggu sebelum coblosan, mereka rame-rame ke sini,” ungkap pria 50 tahun tersebut, ketika ditemui metrojateng.com di komplek makam Ki Ageng Pandanaran, Selasa (12/2/2019).

Ia mengatakan, para caleg sering membawa ragam kembang dan kertas berisi doa untuk bermunajat di depan makam.

Saat metrojateng.com berada di lokasi tersebut, komplek makam berada di atas perbukitan Mugasari Semarang, terlihat ada tujuh makam berada di halaman luar, kemudian 15 makam yang konon keturunan dan sahabat Ki Ageng Pandanaran diletakkan dalam bangunan rumah. Serta tiga makam utama yang menghadap ke arah kiblat dan tertutup kelambu putih.

Tiga makam itu diyakini berisi jasad Pangeran Madiyo Pandan alias Maulana Ibnu Abdul Salam, Ki Ageng Pandanaran alias P Made Pandan dan Nyai Ageng Sejanila alias Endang Sejanila alias Siti Fatimah yang tak lain istri sang kiai. Di sampingnya masih ada dua makam yang konon merupakan anak-anak dari sang kiai.

“Para peziarah biasanya bermunajat ke tiga makam itu. Jumat Kliwon jumlah peziarah malahan ada ratusan orang. Berdoanya dari malam hingga pagi hari,” katanya.

Berpindah ke depan makam, Suwarno menunjukan sebuah mimbar kayu dengan ukiran kuno yang kerap dijadikan tempat bertapa para peziarah. Tepat belakang mimbar, ada satu kendi. Kendi itu jika saat momentum tertentu diisi air untuk kemudian diminum oleh peziarah.

“Biasanya, para caleg ritual wajibnya semedi di mimbar ini. Kendinya juga diisi air dari sumber sumur dekat sini. Yang percaya sama khasiatnya, ada yang dipakai mandi dan siraman buat pengantin,” tutur generasi ketujuh juru kunci Makam Ki Ageng Pandanaran tersebut.

Selain jadi jujukan para caleg, daya tarik makam bahkan menarik perhatian masyarakat luas. Suasana makam sangat ramai ketika akhir pekan. Rombongan peziarah yang datang dari  luar kota dan sekitar Semarang.

Kebanyakan masyarakat berziarah hingga pukul 00.00. Ada sejumlah peziarah dari etnis Tionghoa membawa hio untuk bersembayang di makam Ki Ageng Pandanaran. Ketika Pilpres 2014 silam, ada capres yang berziarah ke makam tersebut. Termasuk saat Ganjar Pranowo dan Hendrar Prihadi maju di bursa Pilgub 2018 dan Pilwakot 2015.

“Pak Ganjar maupun Pak Hendi, termasuk Pak Kapolda sering datang untuk berziarah. Biasanya pukul 23.00. Pak Hendi sebelum jadi wali kota sampai sudah menjabat rutin ziarah. Mereka berdoa sambil tahlilan semalam suntuk,” ujar Suwarno.

Sejak 1975 silam, makam Ki Ageng Pandanaran rutin direnovasi. Semula komplek makam hanya berupa bangunan bambu seadanya yang dikelilingi hutan belantara.

Untuk mengenang jejak sejarah Ki Ageng Pandanaran, masyarakat setempat rutin memperingati hari lahirnya saban 10 Muharam. Warga mengarak hasil bumi dan memandikan ragam pusaka peninggalan Ki Ageng Pandanaran.

“Setelah semua pusaka dijamasi, dilakukan gelar ritual mengganti kain mori di makam Pandanaran,” tutupnya. (far)

Ucapan Lebaran 1440

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.