Dari Selamatan sampai Dukun Terlibat Pemindahan 1.200 Jenazah

Ada 150 makam tanpa nama. Hanya tertancap kayu sebagai penanda.

SEMARANG- Pemindahan 1.200 jenazah bukan sekadar berurusan dengan jasad yang sudah menyatu dengan tanah. Para penggali kubur menggunakan pendekatan budaya Jawa yang kental balutan unsur metafisika.

Penggali kubur memindahkan makam yang tergusur Tol Batang-Semarang, di Kampung Klampisan, Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Kamis (16/8/2018). Foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto

Rubiyono, koordinator pemindahan, tengah meriung bersama rekannya di bawah tenda. Mereka melepas lelah di tengah terik matahari musim kemarau bulan Agustus. Sembari membahasahi tenggorokan dengan minuman, mereka berembug terkait makam yang tidak memiliki nama.

“Ada 150 makam tanpa nama. Hanya tertancap kayu sebagai penanda. Kami tidak bisa melacak ahli warisnya. Tapi kami akan perlakukan seperti makam lainnya,” kata Rubiyono, ketua Paguyuban Ngarso yang mengelola malam Klampisan di Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

Ia mengatakan ada orang-orang khusus yang ditugasi mendeteksi isi setiap makam. Dari hasil pendeteksian yang dilakukan saat ini, ia mengaku masih mendapati tulang belulang jenazah maupun yang sudah menyatu dengan tanah.

“Kami tetap menggali makam tanpa nama. Isinya apa saja nanti dilacak oleh tim pendeteksi. Kalau hanya tanah ya dikubur lagi. Kalau ada benda-benda lainnya juga dikuburkan lagi dengan layak,” bebernya.

Tim pendeteksi yang disebut seorang dukun yang menguasai ilmu metafisika yang berkaitan dengan dunia lain.

BACA JUGA: 1.200 Jenazah Tergusur Proyek Tol Semarang-Batang

Letak pemakaman Klampisan berada di jalur Tol Semarang-Batang. Mau tak mau, makam tergusur pembangunan jalan. Rubiyono mendata ada 1.200 makam dengan nama yang memiliki ahli waris.

Beberapa hari sebelum pemindahan yang berlangsung sejak Rabu (15/8/2018), tim penggali kubur menggelar selamatan. Ada aneka makanan seperti ayam, nasi tumpeng dan sayur-mayur.

“Kami berdoa dan selamatan supaya lancar dalam proses pemindahan. Ada orang yang mendeteksi dengan doa-doa tertentu,” ujar dia.

Setelah sehari bekerja, Rubiyono mengaku tak ada aral melintang dalam proses pemindahan. Hanya saja, tanah pemakaman keras, sehingga cangkul-cangkul rusak.

Dalam pemindahan ini ada 25 orang sebagai penggali kubur. Ditambah 45 orang yang ikut membantu memindahkan makam.

“Makam pindah 50 meter dari lokasi. Luasnya 12.000 meter persegi. Kalau makam Klampisan ini luanya 5.400 meter persegi. Makam ini mungkin sudah ada sejak ratusan tahun,” imbuh dia. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.