Cucu Dalang Potehi, Pilih Barongsai dan Tinggalkan Sekolah

THIO Thiong Gie alias Teguh Candra memang telah meninggal dunia sejak 2014 silam. Namun, Teguh yang dikenal sebagai maestro dalang potehi tetap mewariskan bakat luar biasa di bidang kesenian khas Thionghoa.

Seorang anaknya, Thio Haow Lie kini meneruskan bakat Teguh menjadi dalang potehi. Sementara Satya Heri Candra, salah satu cucunya kini memilih menggeluti usaha pembuatan barongsai.

Satya Heri Candra sedang melukis kepala barongsai. (foto: metrojateng.com/Efendi)

“Saya putus sekolah ya gara-gara sibuk membuat barongsai. Kebetulan pas kelas 1 SMP, lagi ramai-ramainya mendapat pesanan barongsai. Akhirnya usaha itu saya tekuni sampai sekarang,” terangnya, saat ditemui metrosemarang.com di bengkel barongsainya di Jalan Petudungan, Semarang, Jumat (2/2).

Menjelang Imlek, ia bersama adiknya, Gunawan Heri Candra sedang mengebut pesanan barongsai. Barongsai buatannya akan dipakai untuk pentas saat perayaan Imlek nanti.

Ia menggarap lima barongsai serta satu set liong pesanan dari Surabaya, beberapa kota di Kalimantan seperti Pontianak dan Makassar.

Pesanan mulai melonjak empat bulan menjelang Imlek. Tiap bulan pria berusia 27 tahun ini mendapat tiga pesanan barongsai. Sebuah barongsai dengan bulu sintetis dibanderol Rp 2,5 juta. Untuk jenis bulu domba impor dijual seharga Rp 5 juta-Rp 5,5 juta.

Sedangkan satu set liong seberat 3,5 kilogram ia jual Rp 6,5 juta. Ia menyebut besaran harga tergantung permintaan tiap pembeli.

“Paling mahal bisa sampai Rp 8 juta untuk dikirim ke Pontianak. Sebab catnya lebih cerah, seolah menyala saat malam hari,” lanjutnya. Harga sebuah liong lebih mahal karena pola pembuatannya lebih rumit pada bagian kerangkanya.

“Kami punya ciri khas sendiri sembari namun tetap mengikuti tren yang berkembang saat ini. Jika dulu sebuah barongsai bercorak satu warna, untuk saat ini polanya ada banyak warna,” ungkap warga Jalan Taman Serang 1 Semarang Timur tersebut.

Menurutnya usaha pembuatan barongsai butuh kerja keras lantaran bergantung dengan cuaca. “Kalau hujan kepala barongsai jadi lembek, jadi benar-benar butuh sinar matahari yang maksimal,” tuturnya.

Walau begitu, diakuinya orderan barongsai cenderung menurun bila dibanding Imlek 2017 lalu. Selain jumlah perajin kian banyak, juga terkendala faktor cuaca. “Di Tahun Anjing tahun ini, saya berharap mendapat berkah berlebih dari hasil usaha barongsai,” tandasnya. (Fariz Fardianto)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

36 − = 26

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.