Cerita Diaspora Keturunan Jawa Menjaga Budaya Leluhur

Para peserta yang tergabung dalam Javanese Diaspora Network (JDN) itu juga akan diajak mengikuti tur di Kota Solo. Mereka akan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan hingga 23 Juni 2019.

SOLO – Sebanyak 268 diaspora keturunan Jawa berkumpul di Kota Solo, Kamis (20/6/2019). Beragam kisah dibagikan mereka yang hadir dalam acara Paguyuban Javanese Diaspora, Network: Ngumpulke Balung Pisah di Pendopo Javanologi Uiversitas Sebelas Maret (UNS) tersebut.

Prof Jamal Wiwoho memberikan souvenir kepada diaspora keterunan Jawa pada saat acara pertemuan Paguyuban Javanese Diaspora, Network: Ngumpulke Balung Pisah di Pendopo Javanologi UNS, Kamis (20/6/19). Foto: metrojateng.com

Para diaspora itu berasal dari berbagai negara di antaranya Belanda, Suriname, Malaysia, New Caledonia, Cina, Singapura dan Amerika Serikat. Dalam kajian ilmu sosial, diaspora merupakan istilah yang merujuk pada kelompok etnis atau bangsa yang tinggal jauh dari kampung halaman, umumnya dengan sebab-sebab persebaran yang bersifat negatif seperti penindasan politik, persekusi, wabah, dan lain-lain.

Sementara istilah Diaspora Indonesia memiliki arti warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri. Salah satu diaspora keturunan Jawa yang tinggal di Belanda, Elizabeth Sri (41) mengaku senang bisa menginjakkan kaki di tanah leluhur. Ia lahir dan besar di sebuah kota yang terletak di sebelah Barat Laut Ibukota Belanda, Amsterdam.

Embah aku ning Londo wiwit tahun 1925 nganti saiki (Nenek saya mulai tinggal di Belanda sejak tahun 1925 hingga sekarang),” ujarnya.

Wanita yang fasih bahasa Jawa ngoko tersebut menceritakan diaspora keturunan Jawa yang tinggal di Belanda berjumlah ratusan. Mereka bahkan rutin mengadakan pertemuan untuk mengobati rasa kangen dan sebagai wadah menjalin silahturahmi.

“Kita sering mengadakan pesta di sana, semua makanan, lagu-lagu dan berbicara pun menggunakan bahasa Jawa, untuk nostalgia,” ujar wanita asli Blitar, Jawa Timur tersebut.

Bahkan banyak dari diaspora di Belanda yang kehilangan sanak keluarga karena terlalu lama tinggal di Belanda. Melalui komunitas diaspora, mereka dibantu untuk menemukan keluarga yang ada di Jawa.

“Diaspora di Belanda bekerjanya macam-macam ada yang mampu untuk pulang dan ada yang tidak, kita di sana begitu senang jika menemukan satu keluarga di Jawa,” tukasnya.

Kecintaan pada Jawa, menjadi alasan utamanya untuk mengorbankan waktu dan tenaga datang ke tanah leluhur. Bahkan untuk melestarikan budaya Jawa, anak-anaknya diwajibkan untuk menggunakan bahasa Jawa di rumah.

Hal senada juga disampaikan oleh Nawawi (60) diaspora keturunan Jawa yang tinggal di Johor, Malaysia. Ia bercerita jika diaspora keturunan Jawa di Malaysia berjumlah jutaan. Terutama para guru yang dulu megikuti migrasi di Malaysia.

Kekerabatan para diaspora keturunan Jawa di Malaysia begitu kental. Bahkan banyak diaspora yang tidak sengaja bertemu di jalan kemudian langsung menjalin kekerabatan bak saudara kandung yang baru datang dari jauh.

“Kita itu sering ketemu orang Jawa di Malaysia, langsung kita ajak traktir makan karena nyambung dan rasa persaudaraanya tinggi. Ini berbeda dengan kebiasaan diaspora keturunan lain,” ujarnya.

Para peserta yang tergabung dalam Javanese Diaspora Network (JDN) itu juga akan diajak mengikuti tur di Kota Solo. Mereka akan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan hingga 23 Juni 2019 mendatang. (MJ-25)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.