Cegah Pungli, Transaksi Ekspor Ikan Bakal Dilayani Online

Eksportir ikan agar tak ribet dalam melakukan transaksi pengiriman produk perikanan antar pulau maupun antar negara.

SEMARANG – Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Hasil Perikanan Kelas II Kota Semarang telah mengikat kerjasama dengan Kementerian Koordinator Perekonomian untuk menanggulangi praktek pungutan liar yang kerap menghantui para eksportir ikan. Caranya, dengan mengubah transaksi ekspor ikan secara manual menjadi sistem online.

Deputi Pengembangan Operasi Lembaga INSW Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Muwasiq Muhammad Noor bersama Kepala BKIPM Kota Semarang, Raden Gatot Perdana saat memberikan penyuluhan tentang layanan OSS. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

Deputi Pengembangan Operasi Lembaga INSW Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Muwasiq Muhammad Noor mengatakan kerjasama dilakukan dengan BKIPM dengan membuat gebrakan melakukan transaksi ekspor yang lebih cepat dan efisien.

“Dengan meluncurkan sistem transaksi Online Single Submission (OSS) nantinya menjadi terobosan dalam melakukan izin usaha ekspor ikan. Sistem ini akan berlaku efektif setahun mendatang sehingga dalam proses pengisian informasi untuk mengajukan izin usaha tidak perlu dilakukan berulang-ulang. Pengajuan izin usaha di OSS juga bersifat auto approval,” katanya, usai dialog di Kantor BKIPM Kota Semarang, Jalan Suratmo, Manyaran, Senin (25/3/2019).

Ia menjelaskan para eksportir ikan tak lagi ribet dalam melakukan transaksi pengiriman produk perikanan antar pulau maupun antar negara. Layanan OSS mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik. Tujuannya untuk percepatan dan peningkatan penanaman modal dan berusaha di Indonesia.

Dengan sistem OSS, pihaknya dapat menyelaraskan izin untuk transaksi ekspor. Sejauh ini sudah ada 18 pelaku usaha yang ia rangkul untuk menerapkan layanan OSS. Ke depan, ia menargetkan ada 30 pelaku usaha lagi yang akan diajak menerapkan layanan online untuk pengiriman barang ke luar negeri.

“Jadi nanti pengusaha enggak perlu lagi repot bawa berkas perizinan setumpuk saat datang ke kantor BKIPM. Mereka nanti cuma perlu memasukan data transaksinya agar dapat mengakses pengiriman via online. Cukup praktis dan dapat mengantisipasi pungutan liar yang sering ditemukan di setiap lembaga perizinan. Semuanya akan dikalkulasikan dalam satu akses online,” terangnya.

Kepala Bidang Kepatuhan, Pusat SSK BKIPM Haristanto, berharap adanya sistem OSS ke depan mampu membuat transaksi ekspor dan impor produk perikanan semakin lancar.

“Regulasi ini mempermudah ekspor ke depan. Apalagi potensi tangkapan ikan yang dihasilkan para nelayan saat ini sangat meningkat. Trennya selalu naik signifikan,” akunya.

Kepala BKIPM Kota Semarang, Raden Gatot Perdana mendukung penuh upaya Kemenko Perekonomian untuk mengimplementasikan OSS bagi para eksportir ikan.

Pihaknya selama ini punya mitra usaha sebanyak 49 perusahaan. “Harapannya kalau OSS sudah diterapkan, maka ke depan bisa berkembang dengan lebih baik lagi,” tuturnya.

Volume ekspor dari Jateng sendiri selama ini didominasi pengiriman produk udang, cumi dan ikan-ikan jenis tertentu. Tujuan ekspornya ke Taiwan, Korea, Benua Eropa dan Amerika serikat. (far)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.