Catur Gajah, Taktik Politik Kapan Menyerang, Bertahan dan Mematikan Raja

Mengasah kecerdasan berpikir bisa dilakukan melalui media apa saja. Permainan catur gajah salah satunya.

Permainan Catur Gajah. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Bidak-bidak saling berhadapan di atas papan. Pandangan mata Lina Listiani menatap tajam pada beberapa bidak untuk diarahkan ke depan. Ada bidak bergambar pion merah (Bing), bidang menteri (Shu), bidak gajah (Xiang), bidak kuda (ma), bidak benteng (ci), bidak meriam (Pau) dan bidak pion hitam (Zu).

Lina berkata, memenangkan permainan catur atau sekak gajah, kuncinya berada pada sebuah bidak meriam. Bidak meriam itulah yang kerap dipakai untuk menyerang lawan-lawannya sekaligus untuk bertahan.

“Namanya pau untuk bidak meriam. Mainnya loncat satu satu. Lalu kita dan lawan masing-masing punya lima pion. Yang membedakan dengan catur, jalan mainnya menyilang tapi meriam yang dijadikan alat menyerang, alat bertahan dan mematikan raja,” ujar Lina, sembari memeragakan cara main sekak gajah, di rumahnya, kawasan Pecinan, Semarang Tengah, Sabtu (23/3/2019).

Lina Listiani saat main sekak gajah di pelataran rumahnya. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

Sekak atau catur pada umumnya merupakan olahraga yang sangat familier bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun, tak banyak orang paham dengan permainan catur gajah.

Xiangqi atau catur gajah merupakan permainan yang sudah mendarah daging di dataran Tiongkok. Bagi orang awam, cara mainnya agak membingungkan. Sebab, pada papan bidaknya hanya tergambar garis-garis merah sebagai penanda jalur melangkah. Ini berbeda dengan bidak catur umumnya yang bergores warna hitam dan putih.

“Belajar sekak gajah ini, kalau sudah biasa main catur, jadinya makin gampang,” jelasnya.

Layaknya olahraga lainnya, catur gajah juga kerap dilombakan. Bahkan ada grandmasternya. “Makanya kamu kalau udah biasa main catur, belajar sekak gajah dua hari aja pasti udah bisa,” kata Lina saat berbincang dengan metrojateng.com, baru-baru ini.

Tahun 2010, catur gajah mulai dikenalkan di Ibukota Jateng. Malahan Provinsi Jawa Tengah sudah punya kepengurusan untuk olahraga catur gajah. Namanya Persatuan Xiangqi Indonesia (XIQI) Pengcab Jawa Tengah. Pengurus XIQI pecahan dari Percasi. Lina sendiri didampuk sebagai sekretaris XIQI Jateng.

XIQI Jateng punya sepuluh atlet. Para atlet catur gajah berusia variatif. Mulai anak berumur 10 tahun hingga paling sepuh berumur 80 tahun.

“Sekarang kami lagi giat mengajari yang muda muda. Karena kami enggak mau kalah sama Jawa Barat di mana sekak gajah justru sudah masuk ke proses pembelajaran lingkungan pondok pesantren. Pengurus XIQI Jabar sering mengajari santri-santri main sekak gajah,” urainya.

Semangat untuk mempopulerkan catur gajah memang sedang bergelora. Tetapi Lina mengakui memang tak mudah mengajak anak-anak untuk menekuni olahraga yang satu ini.

Dia selama ini kerap mendapat bibit unggul untuk disalurkan menjadi atlet. Namun hambatan selalu menghadang. Terutama ketika ada anak yang sudah lulus sekolah memilih melanjutkan kuliahnya ke luar provinsi.

“Saya agak kesulitan regenerasi karena banyak anak lulus sekolah, terus menghilang. Begitu terus. Paling sulit mendapat anak yang benar-benar suka main catur,” cetusnya.

Belajar main catur gajah punya manfaat tersendiri. Selain mengasah ketajaman otak, catur gajah punya filosofi pantang menyerah serta paling penting lagi bisa mengurangi pikun.

Karenanya, ia mengatakan catur gajah saat ini sering dimainkan oleh para lansia di Pecinan untuk sekedar mengusir waktu luang. Hal ini menurutnya perlu digiatkan lagi supaya sekak gajah jadi alternatif permainan bagi anak-anak yang tumbuh di era digital.

Saat ini ia banyak menelurkan atlet catur gajah unggulan di sejumlah daerah. Purwokerto dan Purbalingga salah satunya.

Sebagai orang yang lama menekuni olahraga tersebut, Lina zaman dahulu pernah meraih juara Piala Wali Kota. Tepatnya 67 tahun silam. Kini Pengurus XIQI Jateng sudah punya empat cabang di Solo, Semarang, Purwokerto dan Purbalingga.

“Sampai-sampai atlet master nasional wanita kami tarik buat ajari ke sekolah sekolah. Biar siswa bisa main catur gajah,” bebernya.

Ia berharap catur gajah bisa dikenal luas oleh masyarakat Jawa Tengah. Sehingga mampu mengikutsertakan dalam ragam kejuaraan tingkat nasional maupun internasional.

“XIQI ini kan sudah diikutsertakan dalam kejuaraan internasional sejak 2010. Eman-eman sebenarnya kalau orang dari negara kita enggak ada yang berpartisipasi di ajang XIQI Internasional Content,” ujarnya. (far)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.