Bupati Tegal dan Warga Geruduk Pabrik Pengolah Limbah B3 di Karangdawa

Lingkungan Tercemar

Selain PT ATS, warga juga ikut menggeruduk tiga pabrik pengolahan dan pemanfaatan limbah B3 yang turut didatangi Umi

TEGAL – Bupati Tegal, Umi Azizah bersama ratusan wargs menggeruduk sejumlah pabrik penampungan dan pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Selasa (15/1/2019) siang. Warga menuntut Umi menutup pabrik-pabrik tersebut karena telah mencemari lingkungan.

Bupati Tegal, Umi Azizah didampingi SKPD terkait dan ratusan warga saat mendatangi lokasi pembakaran kapur di Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari. Foto : metrojateng.com/ adithya

‎Sebelum Umi datang sekitar pukul 14.00 WIB, puluhan warga sudah berkumpul di sekitar PT ATS Nugratama, salah satu pabrik yang dikeluhkan karena keberadaan limbah B3 yang ada di dalamnya menimbulkan pencemaran udara dan air. Begitu Umi datang, mereka ikut menggeruduk masuk ke dalam pabrik dan meminta orang nomor satu di Kabupaten Tegal itu menutup tempat tersebut.

Saat dicek, di dalam tempat itu terdapat kolam penampungan limbah kimia yang kondisinya sudah kosong. Meski demikian, baunya masih sangat menyengat. Bahkan, Umi dan ratusan warga harus menggunakan masker serta menutup hidung dengan kain.

‎Salah satu warga RT 04/ RW 08 Desa Karangdawa, Amir Maliki (30) mengatakan, warga sudah lama terganggu dengan keberadaan pabrik penampungan limbah B3 tersebut karena mencemari lingkungan.

“Harapannya segera tutup karena menimbulkan dampak buruk. Selain bau menyengat, warga juga sesak napas, kena penyakit paru-paru. Sumur juga tercemar sehingga tidak bisa digunakan,” katanya.

Menurut Amir, pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari limbah B3 yang ada di pabrik tidak hanya dirasakan warga di Desa Karangdawa. Tetapi juga hingga ke desa lain‎. Ironisnya, pencemaran tersebut sudah berlangsung sejak lima bulan terakhir.

“Daerah sini sudah berbulan-bulan tercemar. Kalau dibilang marah, warga sudah marah,” tandasnya.

Selain PT ATS, warga juga ikut menggeruduk tiga pabrik pengolahan dan pemanfaatan limbah B3 yang turut didatangi Umi, di antaranya PT Putrosidobiso‎ dan PT Karya Nusa Bumi Persada. Lokasi kedua pabrik yang saling berdekatan itu berada di sekitar area penambangan dan pembakaran batu kapur. Warga juga menuntut pabrik-pabrik tersebut ditutup.

Saat dimintai tanggapan terkait tuntutan warg‎a, Umi mengaku memahami dampak yang dirasakan warga karena pencemaran limbah B3. Dia menyatakan pemkab akan mengambil tindakan jika keberadaan pabrik melanggar aturan.

Bupati Umi Azizah dan warga harus mengenakan masker karena bau menyengat yang ditimbulkan dari limbah. Foto: metrojateng.com/adithya

“Setiap hari warga merasakan dampaknya. Tentunya tidak nyaman. Sekiranya nanti setelah dicek ternyata melanggar aturan, ya kita harus mengambil tindakan,” katanya.

Izin Kementerian

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tegal, Agus Subagyo ‎yang mendampingi Umi mengemukakan, perizinan pabrik pengolahan limbah dikeluarkan oleh kementerian.

“Pada saat mengurus perizinan semua memenuhi, sehingga kementerian mengeluarkan izin. Izin selama lima tahun, kemudian diperpanjang lagi. Kemungkinan sudah 15 tahun lamanya. Dulu kan tahun 70-an untuk pembakaran gamping menggunakan kayu. Sekarang pakai limbah,” bebernya.

Di lokasi yang sama, pemilik PT Putrosidobiso, Edo menyebut, perusahaannya memiliki izin untuk melakukan pengolahan limbah B3. Bahkan, asap pembakaran kapur diuji berkala setiap enam bulan sekali.

“Perusahaan saya ini pembakaran kapur. Kalau dulu dibakar menggunakan kayu, sekarang ini memakai bahan bakar alternatif, yakni oli bekas dan kain majun,” pungkasnya.

Ihwal keinginan warga agar pabriknya ditutup, Edo enggan berkomentar lebih lanjut. (MJ-10)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.