Bongkar Penyimpangan Distribusi, Polres Boyolali Sita 13 Ton Pupuk Bersubsidi

Belasan ton pupuk bersubsidi diamankan jajaran Polres Boyolali karena diduga didistribusikan secara ilegal. Foto: mterojateng.com/MJ-07
Belasan ton pupuk bersubsidi diamankan jajaran Polres Boyolali karena diduga didistribusikan secara ilegal. Foto: mterojateng.com/MJ-07

BOYOLALI – Polres Boyolali berhasil mengungkap dugaan penyimpangan distribusi pupuk bersubsidi. Sebanyak 306 zak atau sekitar 13 ton pupuk bersubsidi dari berbagai merek disita.

Kasat Reskrim Polres Boyolali AKP Andie Prasetyo mengatakan, penggrebekan dilakukan di lima toko di kecamatan Mojosongo dan Cepogo. “Pupuk itu kami amankan dari toko milik PN (46), SH (39), DT (76), dan SU (40) di Cepogo dan SH di Mojosongo,” ujar Andie Prasetyo Kamis (28/5).

Toko-toko itu tak memiliki izin penjualan pupuk bersubsidi. “Pupuk bersubsidi semestinya untuk petani dan didistribusikan melalui kelompok tani, ternyata dijual untuk umum. Selain itu toko-toko ini juga tidak memiliki izin menjual pupuk bersubsidi,” kata Andie.

Lima toko yang digrebek petugas tersebut yakni toko “Kuantan” di Kampung Pomah, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Mojosongo. Petugas menggrebek toko ini pada Rabu (27/5). Dari toko milik SH (39) warga Kampung Gentan, Kelurahan Mojosongo itu petugas berhasil menyita sekitar 10 ton pupuk bersubsidi. Terdiri ZA sebanyak 66 zak (3,3 ton), pupuk Urea 77 zak (3,55 ton), pupuk Phonska sebanyak 25 zak (1,25 ton), pupuk SP-36 sebanyak 11 zak (5,50 kwintal) dan pupuk organic merek Petroganik sebanyak 27 zak (1,08 ton).

Petugas juga menggrebek empat toko lain di sekitar pasar Cepogo, yang juga menjual pupuk bersubsidi tidak sesuai ketentuan Selasa (26/5). Total ada sekitar tiga ton pupuk bersubsidi yang disita, dari toko milik SU, DT, PN dan AZ.

Dari toko milik SU (40), petugas menyita pupuk merek ZA sebanyak 20 zak (1 ton), pupuk Urea 4 zak (2 kwintal) dan 7 zak pupuk Phonska (3,5 kwintal). Sedangkan dari toko milik DT (76), disita 10 zak pupuk organic, 16 zak pupuk Urea dan satu zak Phonska. Dari toko milik PN (46) disita pupuk ZA sebanyak 22 zak dan Urea 7 zak serta dari toko AZ (40), disita sebanyak 19 zak pupuk ZA.

Ungkap kasus tersebut bermula dari informasi adanya penjualan pupuk bersubsidi yang tidak sesuai ketentuan. Polisi langsung melakukan penyelidikan dan hasilnya ternyata benar. “Pemilik pupuk tersebut sudah kami mintai keterangan, namun status masih sebagai saksi sehingga tidak kami lakukan penahanan. Kami masih mendalami penyidikan,” jelas Andi didampingi Kabag Ops Reskrim Iptu Mulyanto.

Andie menyatakan, akan berkoordinasi dengan Kementerian terkait untuk tindak lanjut pengungkapan dugaan penyimpangan distribusi pupuk bersubsidi ini. Menurut dia, penjual pupuk tak berizin atau illegal dapat dijerat Pasal 6 UU 7/1955 tentang pengusutan, penuntutan dan pengadilan tindak pidana ekonomi dengan ancaman hukuman pidana maksimal dua tahun penjara. (MJ-07)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

− 5 = 2

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.