BKIPM Rangkul Pedagang Ikan Hias Awasi Pelepasliaran Ikan Invasif

SEMARANG – Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Klas II Kota Semarang merangkul para pedagang ikan hias untuk meningkatkan pengawasan terhadap aksi pelepasliaran ikan-ikan invasif dan berbahaya di wilayahnya. Para pedagang yang diajak mengawasi ikan invasif tergabung dalam Asosiasi Pedagang dan Pembudidaya Ikan Hias Semarang (APPIHIS).

Gatot R Perdana, Kepala BKIPM Klas II Kota Semarang dan jajarannya saat bertemu dengan pedagang ikan hias di kantornya, Jalan Suratmo, Manyaran, Semarang Barat. Foto: fariz fardianto

“Kita sudah menyosialisasikan kepada mereka sekaligus menginformasikan secara detail mengenai pelarangan ikan invasif dan berbahaya sesuai PermenKP Nomor 14 Tahun 2014,” kata Gatot R Perdana, Kepala BKIPM Klas II Kota Semarang di kantornya Jalan Suratmo Manyaran, Kamis (26/7).

Ia mengaku, telah menampung aspirasi dan keluhan para pedagang ikan hias pasca diberlakukannya larangan peredaran ikan invasif dan berbahaya tersebut. Menurutnya ini momentum yang bagus untuk bersama mengawasi pelepasliaran ikan invasif dan berbahaya.

Selain itu, para pedagang ikan hias juga diajak mengembangkan usahanya sampai ekspor ke luar negeri. “Karena selama ini baru berkuat pasar lokal. Maka dengan pelarangan ikan invasif bisa jadi peluang mereka untuk ekspor semakin terbuka lebar,” ungkap Gatot.

Nantinya, Gatot menambahkan masih ada pihak-pihak yang akan menyerahkan ikan invasif san berbahaya di posko BKIPM Manyaran.

Penyerahan ikan invasif akan dilakukan seorang pemilik ikan hias dari, pengelola Taman Wisata Cimory Ungaran, sampai River Work.

“Ikannya bisa dimusnahkan. Bisa juga dibuat penelitian. Dan akan ada opsi lainnya untuk edukasi tapi setelah dilakukan penertiban soal izinnya apakah ada atau sisi teknisnya telah memenuhi persyaratan,” tutur Gatot.

Sedangkan, Danny Bayu Ketua APPIHIS menyambut baik kerjasama ekspor ikan hias yang terjalin dengan BKIPM. Pihaknya berjanji akan memberikan penanganan khusus untuk memantau pelepasliaran ikan invasif dan berbahaya yang biasanya dilakukan oleh para hobbies.

“Kadang ada teman yang melepaskan ikan jenia itu karena kurang edukasi dari pemerintah. Padahal itu kan bisa merusak ekosistem laut. Kita akan bareng-bareng bikin acara buat nyosialisasiin jenis invasif dan berbahaya yang dilarang Kementerian Kelautan dan Perikanan,” terangnya, sembari menguraikan bahwa, organisasinya punya anggota 22 orang.

Anggota APPIHIS terafiliasi dengan enam komunitas ikan hias lainnya macam penghobi louhan, gold fish, ikan mas koki, beta dan cupang dan para penggemar aquascape.

Secara terpisah, Trully yang mewakili Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang meminta kepada para pedagang ikan hias untuk dapat mengembangkan potensi bisnisnya dengan terarah.

“Itu biar dipermudah izin ekspornya dan tidak ada kendala lagi,” ujar Trully.

Ia mengimbau kepada semua pedagang ikan hias untuk ikut serta menjaga keseimbangan ekologi lingkungan sekitarnya dengan baik. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.