Berziarah ke Makam Mbah Mudzakkir di Tengah Laut Jawa

Para peziarah melintas hutan mangroove menuju makam Mbah Mudzakkir.
?

DEMAK – Makam KH Abdullah Mudzakkir di Desa Bedono Kecamatan Sayung memang berbeda dengan makam ulama yang lain. Selain berada di tengah laut, para peziarah juga dapat menikmati panorama hutan mangroove di sepanjang jalan menuju makam.

KH Abdullah Mudzakkir, seorang ulama Islam yang hidup di sekitar era 1878 sampai 1950 Masehi. Ilmu keIslamannya berwasilah langsung pada Kiai Soleh Darat Semarang (Bergota).

Bukan hanya ketinggian ilmu agamanya, Mbahh Mudzakkir juga seorang pejuang dalam menumpas penjajah Belanda. Bahkan, dia diminta Kiai Soleh Darat untuk melindungi pejuang tanah air yang bergeriliya ke wilayah Demak (Sayung).
Dari situlah, makam Mbah Mudzakkir masih ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
Menariknya, para peziarah harus menempuh perjalanan kaki sekitar dua kilometer dari daratan Desa Bedono. Sebab, makam KH Abdullah Mudzakkir berada di atas lautan. Sepanjang jalan menuju makam, para peziarah akan melintasi jembatan dengan pemandangan kanan-kiri laut dan kawasan hutan mangrove. Bagi peziarah juga dapat memilih jalur laut dengan menggunakan jasa perahu, hanya mengeluarkan gocek Rp20 ribu untuk sampai ke makam.
Anang Nurrozi, salah seorang cucu KH Abdullah Mudzakkir menceritakan bahwa makam tersebut kerap dikunjungi para peziarah, terlebih saat dilaksanakan Haul. Mbah Mudzakkir sendiri, adalah seorang ulama Islam sekaligus pejuang kemerdekaan yang mempunyai nama asli Juraimi.
“Mbah Mudzakkir ini ulama sekaligus pejuang. Beliau turut serta berperang dalam pertempuran lima hari di Semarang,” kata dia, Selasa (28/2/2017)

Bekal ilmu agamanya kali pertama diperoleh di Nganjuk Jawa Timur kemudian berguru kepada KH M Sholeh Bin Umar Assamaroni atau yang dikenal dengn Mbah Sholeh Darat, yang dimakamkan di Bergota Semarang. Perjuangan Mbah Mudzakkir dalam penyebaran Islam dibuktikan dengan membangun masjid di beberapa daerah. Yakni di Dusun Kaligawe Desa kalisari, Di Dukuhan Kecamatan Sayung dan di Dusun Tambaksari Desa Bedono.

“Di Desa Bedono, beliau membuka pengajian umum yang dilaksanakan tiap hari Minggu, yang kemudian dikenal dengan Ahadan. Kegiatan ini berlangsung sampai sekarang, dan dipimpin dari keturunannya,” lanjut dia.

Ditambahkannya, Mbah Mudzakkir wafat pada 13 September 1950 saat berusia 72 tahun dan dimakamkan di Desa Bedono. 
“Makam Mbah Mudzakkir dulunya berada di daratan, sekitar 100 meter lebih dari bibir pantai. Lalu, saat kena abrasi dan rob, kini makam beliau berada di tengah laut,” ungkapnya.

Saat air rob semakin parah, beberapa keturunannya sempat berencana akan memindahkan makam ke daratan. Namun, karena beberapa pertimbangan makam tersebut tetap seperti semula dengan dibangun pembatas supaya tidak hilang ditelan air laut.
“Sampai saat ini makam Mbah Mudzakkir masih ada sebagai bukti sejarah, bahkan banyak dikunjungi peziarah,” tutur Anang.

Muhammad Faizin, tokoh pemuda Desa Bedono menambahkan, KH Abdullah Mudzakkir adalah seorang guru thoriqoh yang memiliki karisma tinggi. Hingga saat ini, warga sekitar maupun keturunannya masih menjaga ajaran Islam sebagaimana yang dibawanya.

“Mbah Mudzakkir memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam terutama di Sayung dan sekitarnya,” ucapnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

73 + = 80

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.