Bernostalgia dengan Lembaran “Postcard”

TIWUK menunjukkan koleksi kartu posnya belum lama ini. Wanita jebolan Universitas Diponegoro (Undip) tersebut mengaku beruntung karena sejak lama bergabung dengan komunitas Postcrossing sebagai wadah para kolektor kartu pos di seluruh pelosok dunia.

Seorang kolektor menunjukkan kartu posnya bergambar MAJT dan Gereja Blenduk. Foto: metrojateng.com/fariz fardianto

Tiwuk bilang belakangan ini ia mendapat kiriman kartu pos bergambar bendera kotak-kotak Kroasia. Kartu pos itu ia dapatkan dari kenalannya di Belanda usai menonton piala dunia 2018 di Rusia.

“Kami rutin berkirim post card setiap bulan. Kami sih kirim-kirim tiap bulan, tapi kadang ada yang gak sampai juga, hahaha. Lagipula banyak juga yang tidak sampai, saya menyoroti bea cukai dan PT Pos Indonesia terhadap hal ini, kok bisa tidak sampai dan sering terjadi,” ungkap Tiwuk seraya menunjukan kartu pos kiriman Brenda van Lier, koleganya asal Belanda, Sabtu (28/7).

Ia menyatakan sudah memperoleh banyak kiriman kartu pos dari sejumlah negara. Jumlahnya, kata Tiwuk mencapai ribuan lembar. Bahkan, Tiwuk dengan bangga menunjukkan berbagai kartu pos edisi dalam maupun luar negeri yang punya desain unik-unik.

Salah satu desain gambar kartu pos paling bagus, menurutnya yaitu edisi gerhana matahari. PT Pos Indonesia menerbitkan edisi tersebut di tahun ini. Ternyata, ujarnya banyak sekali kolektor yang berebut mendapat kartu pos gerhana matahari tersebut.

Ia bilang hanya perlu merogoh kocek Rp 15 ribu untuk mendapat kartu pos edisi tersebut. Diakuinya menekuni koleksi kartu pos ini sudah dilakoninya sejak bangku sekolah dasar.

Saat itu ia berdomisili di Klaten. Ia rutin menulis untuk kartu pos untuk mengeskpresikan bakatnya.

“Pak pos sampa hafal dengan saya kalau ke rumah saya. Dulu kan pak pos bersepeda ya,” akunya.

Lewat website www.postcrossing.com yang mulai dikenal pada 2013, ia mengatakan kartu pos semakin diminati banyak orang.

Tiwuk bercerita, dengan website itu seseorang sangat mudah untuk berkirim kartu pos kepada seseorang yang belum dikenal. Secara acak, website akan memberikan nama dan alamat seseorang untuk rujukan berkirim Kartu Pos.

Caranya tinggal membuat akun di situ. Kemudian kalau mau berkirim kartu pos bisa dengan siapa saja secara acak.

“Kita bisa berkenalan dengan siapapun orang dari hal ini. Menyenangkan pokoknya,” tuturnya.

Berawal dari hal ini, Tiwuk sering bertemu dengan sahabatnya dari luar negeri. Saat sahabatnya dengan beragam negara berkunjung ke Indonesia, mereka menyempatkan saling bersua.

Secara keseluruhan, teman-teman komunitas postcrossing di Indonesia itu paling suka kartu pos bertema perkotaan dan gambar alam landscape.

Di Jawa Tengah, setidaknya Komunitas Postcrossing telah memiliki 700 anggota. Selain gemar mengoleksi kartu pos sesekali ia juga mengamati karakter tulisan tangan dari lintas negara.

“Yang paling indah tulisan tangannya orang Belanda,” tukasnya.

Sementara, Diaz Abidin mengaku mulai tertarik membeli kartu pos setelah bertemu beberapa kolektor. Baginya, ada hal mengasyikkan saat membeli kartu pos. Selain bisa bernostalgia, ia bisa mendapati pengalaman berharga dari para pembeli lainnya.

“Saya sudah beli satu bendel kartu pos. Harganya Rp 15 ribu. Isinya delapan lembar. Rasanya senang tetapi nanti kalau ada pertemuan antar kolektor kartu pos di Pos Johar, saya ingin datang ke sana,” tutupnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.