Berada di Jantung Kota, Sendang di Semarang ini Hidupi Ratusan Warga

Sendang Sukolilo ini tidak pernah habis debit airnya walaupun terjadi kemarau panjang.

Anggota DPR RI, Juliari Batubara meninjau hasil pembangunan tandon Sendang Sukolilo dari program CSR PT Pegadaian (Persero), pada Senin (4/2/2019) lalu. (Foto: Ade Lukmono/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Berada di jantung Kota Semarang, siapa sangka masih terdapat sendang yang bisa menjadi sumber air utama masyarakat sekitarnya. Terletak di RT 08 RW 2 Pleburan, sendang yang berada di samping Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kertanegara, Kelurahan Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan ini masih bisa memberikan sumber air yang melimpah untuk ratusan warga.

 

Sendang Sukolilo memiliki keunikan tersendiri. Selain letaknya berada di tengah pusat kota, tepat di atas Sendang Sukolilo terdapat tiga pohon raksasa, yaitu Pohon Asam, Randu Alas dan Beringin yang batang utamanya menyatu satu sama lain. Beberapa warga menyebutkan di atas pohon juga terdapat Anggrek.

 

Pohon besar tersebut membuat suasana di bawah sendang menjadi teduh karena cahaya matahari hampir sulit menembus tanah lantaran terhalang daun dan dahan pohon yang lebat dan melebar.

 

Ketua RW 2, Kelurahan Pleburan, Hadi Handayani mengatakan, sendang yang diberi nama Sendang Sukolilo ini tidak pernah habis debit airnya walaupun terjadi kemarau panjang, seperti beberapa waktu lalu.

 

“Warga di sini hampir semua menggunakan sendang ini. Tidak perlu khawatir kekeringan karena sumber airnya masih deras. Beda dengan PDAM yang kadang tidak mengalir,” katanya, Senin (4/2/2019).

 

Dia menceritakan, pada zaman dahulu ketinggian air di Sendang Sukolilo setara dengan tanah sehingga mudah diambil menggunakan gayung. Saat ini diperlukan alat bantu untuk mengambil air sendang karena airnya yang mulai surut. Kedalaman sendang ini, dikatakannya lebih dari 10 meter.

 

Karena pentingnya Sendang Sukolilo bagi warga, para tokoh masyarakat setempat berusaha merawat keberadaan sendang tersebut dengan meminta bantuan pihak luar untuk ikut menjaga dan melestarikan sendang. Hasilnya, pada 2011 lalu, Bank Danamon beserta Wali Kota Semarang kala itu membangun pembatas di beberapa sisi.

 

Tidak cukup di situ, masyarakat kembali mengajukan bantuan ke PT Pegadaian berupa tandon agar memudahkan masyarakat mengambil dan menampung air dari sendang.

 

“Dengan adanya tandon ini, masyarakat tidak hanya bergantung pada listrik saja untuk mengambil air dari pompa. Kami  bisa menyimpan persediaan air yang cukup bagi warga,” tambahnya.

 

Hadi mengatakan, saat ini tandon air bisa mengaliri sekitar 80 rumah di kawasan RW 2 Kelurahan Pleburan. Jika jumlah tandon ditambah, tidak menutup kemungkinan air sendang bisa lebih banyak mengaliri warga lainnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Juliari Batubara mengatakan pihaknya siap menerima aspirasi masyarakat yang kemudian disampaikan ke BUMN agar diberikan bantuan dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan warga.

 

“Tandon ini aspirasi warga, kami di dewan bisa menyampaikan agar dapat direspons pemerintah atau BUMN. Tentu saja tidak semuanya bisa diwujudkan, namun kami akan perjuangkan,” ungkapnya saat meninjau hasil pembangunan tandon di Sendang Sukolilo. (ade)

 

 

Ucapan Lebaran 1440

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.