Benih Bawang Putih Impor Taiwan Tak Lagi Digunakan Petani

Kementan mengklaim benih itu masih bisa tumbuh di lereng Gunung Sumbing.

MAGELANG- Sejumlah petani di kaki Gunung Sumbing, menentang kebijakan Kementrian Pertanian terkait pengadaan benih bawang putih impor asal Taiwan.

Seorang petani bawang putih saat menebar pupuk di ladang Desa Adipiro, Kaliangklik, Magelang, Jumat (14/12/2018). Foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto

Seorang petani, Fathul Hakim, asal Desa Adipiro, Kalingangklik, Magelang, mengungkapkan benih itu sekarang ditolak petani.

“Desa di Magelang yang menolak benih impor dari Taiwan tahun 2017 itu, ya, Adipuro. Kita enggak mau, karena belum sempat diuji coba,” kata Hakim kepada wartawan, Jumat (14/12/2018).

Hakim menyebut desanya memiliki luas lahan bawang putih lokal mencapai 15 hektare. Ketika 2017 silam, sebuah perusahaan importir PT Mustika Jaya Makmur dari Lumajang sempat masuk ke Desa Adipiro dengan menawarkan kerjasama pembibitan bawang putih.

Hakim bilang para petani sempat mencoba tawaran itu. Mereka mula-mula menanam benih impor 200 kilogram ke ladang mereka. Tapi hasilnya tergolong mengecewakan. Benih impor yang ditanam rupanya sekali tidak berumbi. Ditunggu enam bulan lamanya pun hasilnya nihil.

Alhasil, ladang yang ditanam benih impor itu akhirnya biarkan begitu saja. Lambat laun petani yang menelan kekecewaan memilih mencangkul ladangnya kembali untuk ditanami dengan benih bawang putih lokal.

Hakim tak bisa menyembunyikan kekecewaannya saat menceritakan peristiwa tersebut. Setelah PT Mustika Jaya Makmur pergi, ternyata kesuburan tanah desanya kembali menggugah hasrat dua importir lainnya untuk menyerbu desanya.

Dengan berkaca dari pengalaman pahit sebelumnya, ia dan anggotanya kompak menentang keras masuknya importir tersebut.

“Alasannya, dari sekian banyak benih impor dari Mesir, Taiwan, India dan Skotlandia, yang berumbi cuma dari India. Namun hasilnya jelek. Ketimbang rugi, kami tidak mau lagi menanam benih impor. Dibanding varietas lokal yang tahan lama, benih impor malah cepat busuk,” ujarnya.

Hakim mengaku tak mau berspekulasi menanam benih impor dan memilih menggunakan bibit bawang putih lokal.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, ketika dikonfirmasi beralasan benih impor dari Taiwan itu sebenarnya masih bisa tumbuh subur di Desa Adipiro.

Hanya saja, ungkapnya proses pengumbiannya butuh waktu lama karena harus ada penyesuaian dengan tanah di Gunung Sumbing.

“Kami sangat terbuka untuk berdialog langsung, silakan. Selain masalah air, perawatan tanaman seperti penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, serta pemupukan sesuai takaran sangat penting dalam mendukung suksesnya pertanaman bawang putih,” kata Anton. (far)

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.