Bencana Banjir Ancam 1.864 Desa

Padahal gubernur sudah menyebar surat edaran. Kok pusat kota Semarang kebanjiran banjir. Ini yang patut dipertanyakan.

SEMARANG- Hujan yang mulai mengguyur sebagian besar wilayah Jateng berpotensi menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor.

Stasiun Tawang Kota Semarang tergenang air saat hujan lebar, Senin (3/12/2018) pukul 16.00. Foto: metrojateng.com/dokumentasi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah telah mendeteksi adanya potensi bencana banjir yang mengancam kelangsungan warga yang tinggal di 1.864 desa.

“Spot-spot hujan sudah mulai muncul. Banjir mulai muncul di Cilacap dan Kota Semarang. Pertanyaan saya cuma satu. Kenapa tidak ada sama sekali proyek normalisasi gorong-gorong di jalan raya. Padahal gubernur sudah menyebar surat edaran. Kok pusat kota Semarang kebanjiran banjir. Ini yang patut dipertanyakan,” kata Kepala BPBD Jateng, Sarwa Pramana, kepada metrojateng.com, Rabu (5/12/2018).

Sarwa menyebut intensitas curah hujan di bulan Desember sangat berbeda dengan tahun lalu. Sesuai informasi dari Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Kota Semarang, katanya, puncak musim hujan dengan curah mencapai 400 milimeter diperkirakan bakal terjadi mulai Januari sampai Februari 2019 mendatang.

“Jumlah kecamatan yang berpotensi terdampak banjir ada 336 titik sedangkan desa yang punya potensi terkena banjir saat musim hujan akhir tahun ini ada di 1.864 titik,” kata Sarwa.

Ia juga mengkhawatirkan kondisi pemukiman warga di tebing-tebing pegunungan selama musim penghujan. Hasil laporan yang ia terima dari Pusdaops BPBD Jateng, saat ini

terdapat 334 kecamatan yang berpotensi terkena bencana longsor. Kemudian ada 2.134 desa di Jawa Tengah yang berpotensi terkena longsor.

“Khawatir saya saat terjadi kekeringan panjang, banyak tanah di pemukiman warga yang merekah. Tapi pas hujan dengan kondisi ekstrem semua airnya masuk ke rekahan tanah, pasti berpotensi mengakibatkan tanahnya ambles,” cetusnya.

Gerakan tanah yang mulai merekah saat ini bahkan telah ditemukan Brebes dan Banjarnegara. Ia menyayangkan ulah perusahaan yang melakukan pembabatan hutan dan alih fungsi lahan di areal pegunungan.

Di Magelang, ia pun menemukan banyak penebangan pohon tetapi ranting dan kayunya dibiarkan begitu saja.

“Akibatnya rantingnya atau kayu hasil tebangan pohonnya menahan air dan kalau tidak kuat akan jadi longsor,” ujarnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.