Belum Ada Eksodus Warga Lereng Slamet

Warga lereng Gunung Slamet menyiapkan perayaan Agustusan dan tetap beraktivitas seperti biasa. Foto : Metrojateng
Warga lereng Gunung Slamet menyiapkan perayaan Agustusan dan tetap beraktivitas seperti biasa. Foto : Metrojateng

PEMALANG – Belakangan ini aktivitas Gunung Slamet terus meningkat sejak dinaikkan statusnya menjadi siaga. Namun, hal tersebut tidak mengubah aktivitas sosial dan ekonomi warga di sekitar lereng gunung tertinggi kedua di Jateng itu.

Sebagian besar penduduk yang tinggal di lereng Gunung Slamet tidak mempedulikan adanya letusan hingga dentuman keras dari puncak gunung. Mereka justru nampak sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Bahkan, getaran dari dentuman itu kerap dirasakan saat warga berada di dalam rumah.

Adanya larangan untuk beraktivitas pada radius 4 kilometer dari puncak Slamet juga belum dihiraukan oleh penduduk asli lereng. Mereka nekat bercocok tanam, merawat kebun yang ditanami kentang, lobak dan sayuran lainnya. Memang begitulah warga lereng Slamet, penghasilan mereka hanya didapat dari hasil berkebun dan bercocok tanam.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Desa Jurangmangu, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sugondo. Pria yang merupakan tokoh masyarakat setempat itu menyebutkan, jika aktivitas Gunung Slamet kali ini belum memberikan imbas yang cukup berarti terhadap aktivitas warga.

Hanya saja, pihaknya terus memperingatkan warga agar lebih berhati-hati selama satu bulan kedepan. Sebab, tidak menutup kemungkinan tragedi 2009 lalu akan terulang kembali pada tahun ini.

?Jarak desa kami hanya 6,5 kilometer dari kawah gunung. Namun, dampak dari letusan pada 2009 lalu tidak cukup membahayakan. Sekarang ini kami juga tetap beraktivitas seperti biasa,? katanya, Senin (18/8). (MJ-10)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 22 = 31

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.