Belasan Tahun Menghuni Rudenim, Nasib Pengungsi Rohingya Tak Jelas

Beranak Pinak di Rudenim Semarang

Tak ada negara ketiga yang mau menampung sejumlah pasangan suami istri (pasutri) asal Rohingya, Myanmar, yang saat ini masih tinggal di Rudenim Semarang.

Rudenim Semarang.

 

SEMARANG – Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Kota Semarang mengaku kesulitan mencari negara ketiga yang mau menampung pasangan suami istri (pasutri) asal Rohingya, Myanmar.

 

Pasalnya, sejak pasutri dari Rohingya itu mengungsi dan ditampung di Semarang, nasib mereka semakin tidak jelas.

 

Kepala Rudenim Kota Semarang, Rudi Faisal mengungkapkan sampai saat ini pihaknya tidak bisa menentukan batas masa tinggal pengungsi dari Rohingya tersebut selama tinggal di kantornya.

 

“Sudah sangat lama mereka itu tinggal di Rudenim. Kami memang menyediakan fasilitas ruangan kamar. Tetapi kan jumlahnya terbatas. Hanya buat 60 orang. Sedangkan sebelum akhir 2018 kemarin, jumlah penghuninya membludak sampai 100 orang, ini tidak ideal sama sekali,” kata Rudi saat berbincang dengan¬†metrojateng.com, Kamis (7/2/2019).

 

Ia mengaku masalah kemudian muncul tatkala pasutri asal Rohingya itu beranak pinak. Dari semula hanya punya seorang anak. Kini anak mereka bertambah satu lagi.

 

Menurutnya keberadaan pasutri Rohingya itu sudah ada sejak lama di kantornya. Ia memperkirakan mereka sudah menempati kamar Rudenim selama belasan tahun.

 

“Biaya hidup mereka selama ini ditanggung oleh IOP yang bernaung di bawah UNHCR. Setiap bulan mereka dapat uang untuk kebutuhan hidup Rp 2,5 juta. Tapi sayangnya sampai sekarang belum ada satupun negara ketiga yang tertarik menampung mereka, sehingga kami tidak bisa berbuat apapun saat ini,” akunya.

 

Untuk menyiasati persoalan akibat kapasitas ruang tampung di Rudenim yang over load, Rudi telah memerintahkan kepada petugasnya untuk memindahkan sebagian besar dari mereka ke bangunan pondok wisma yang ada di dekat Papandayan.

 

“Pada akhir Desember kemarin, ada 91 penghuni Rudenim yang kami pindahkan ke sana. Ini solusi yang harus kami tempuh supaya fungsi bangunan Rudenim dapat dikembalikan seperti semula, menjalani layanan penampungan sementara, bukan menjadi tempat tinggal untuk selama-lamanya,” tegas pria bertubuh jangkung tersebut.

 

Dengan kata lain, lanjut Rudi, kini penghuni Rudenim hanya menyisakan sembilan orang saja. Kesembilan orang itu berasal dari Somalia, Kenya, China dan Timor Leste.

 

“Kebanyakan mereka terpaksa ditampung di Rudenim karena bisa perjalanan wisatanya habis maupun izin masa tinggalnya sudah kedaluwarsa,” tandasnya. (far)

 

 

 

 

 

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.