Banyak Warga Miskin Tak Tercover, Perda PMKS Dinilai Mandul

Masalah sosial yang berhubungan dengan sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan adalah hal pokok mendasar untuk diselesaikan semua pihak.

JEPARA – Banyak ditemukan warga miskin di Kabupaten Jepara yang tidak tercover bantuan dari pemerintah. DPRD menilai Perda Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Penyelengaraan Kesejahteraan Bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) mandul.

Salah satu lansia yang menerima bantuan dari Volunteer Jepara. Foto: metrojateng.com

Perda tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di Kabupaten Jepara. Dengan sasaran di antaranya balita telantar, anak telantar, anak bermasalah dengan hukum, anak jalanan, anak yang memerlukan perlindungan khusus, penyandang disabilitas, gelandangan, keluarga bermasalah psikologis dan lansia telantar.

Ketua Fraksi Nasdem DPRD Kabupaten Jepara, Nur Hidayat mengatakan bahwa masalah sosial yang berhubungan dengan sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan adalah hal pokok mendasar untuk diselesaikan semua pihak.

“Dari pemerintah, eksekutif, legislatif dan masyarakat berkewajiban untuk menyelesaikan dengan cara gotong royong,” ujarnya Kamis (14/2/2019)

Sistem kerjanya, papar dia, sebenarnya sudah diatur dalam Perda PMKS. Artinya, pemerintah daerah berkewajiban menggerakkan seluruh stakeholder untuk mendata dan mengatasinya.

“Tapi saya melihat Perda PMKS Jepara masih mandul. Dan tidak ada kesungguhan menjalankan perda itu artinya kalaupun ada masih jauh dari yang diamanahkan perda itu,” terangnya.

Selama ini, Nur mengaku masih banyak menemukan warga yang hidup di bawah garis kemiskinan tapi tidak tercover.

“Ketika saya turun langsung ke masyarakat masih banyak cerita yang memilukan terkait permasalahan sosial. Dan saya sebagai dewan akan terus mendorong pemetintah daerah untuk segera mengatasi masalah ini,” imbuhnya.

Dalam Perda PMKS sudah diatur berkait sumber pendanaan. Yakni dari APBD dan sumber lainnya yang sah dan tidak mengikat. Di sisi lain, dia mengapresiasi dengan adanya komunitas-komunitas sosial di Kabupaten Jepara.

“Saya bangga dan mengapresiasi anak-anak muda jepara, mulai peduli dan tumbuh komunitas sosial, yang aktif seperti Pejuang Sedekah, Jepara Volunteer, Sahabat Diva Jepara, Yayasan Lembayung dan lainnya,” ungkap anggota Komisi B tersebut.

Sementara, anggota Volunteer Jepara, Anette menuturkan bahwa kegiatan sosial yang dilakukan murni untuk membantu sesama.

“Kami tidak menyalahkan pemerintah, ini murni dari kesadaran teman-teman untuk membantu bagi mereka yang membutuhkan,” tutur dia.

Anette menambahkan, selama ini bantuan yang disalurkan sesuai data yang masuk dari relawan. Biasanya, Sabtu dan Minggu bantuan itu disalurkan kepada tiga sampai lima penerima.

“Ada relawan yang tersebar untuk mencari siapa saja yang layak dibantu. Mulai dari anak yang sakit, lansia, disabilitas dan keluarga tidak mampu,” tandasnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.