Bakar Hutan Pinus, Dua Pemburu Landak Terancam Dibui Enam Tahun

Mereka membakar ranting untuk mengasapi sarang landak. Namun, api sudah telanjur membesar, ternyata tidak ada satupun landak yang keluar.

TEGAL – Dua pelaku pemburu landak yang menyebabkan kawasan hutan pinus di Desa Kalibakung, Kecamatan Balapulang terancam hukuman enam tahun penjara. Hal ini terungkap setelah Jajaran Kepolisian Resor Tegal menggelar perkara kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Rabu (9/10/2019).

Sejumlah barang bukti kasus pembakaran hutan pinus ditunjukkan saat gelar perkara di Mapolres Tegal. Foto : metrojateng.com/ adithya

“Kita kenakan Pasal 78 ayat (4) juncto Pasal 50 ayat (3) huruf D UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, dengan ancaman hukuman enam tahun,” ungkap Wakapolres Tegal, Kompol Heru Budiharto kepada awak media.

Dijelaskan Heru, kedua pelaku SMN alias MN (34) dan TRM (50) resmi ditetapkan tersangka, setelah menjalani pemeriksaan sejak Senin (7/10) kemarin. Keduanya ditangkap petugas dikediamannya, di Desa Sokatengah, Kecamatan Balapulang.

Namun, sambung Heru, hingga kini satu pelaku berinisial SG masih buron. Ketiganya merupakan pelaku yang pada saat kejadian bersama-sama membakar kawasan hutan pinus petak 4A RPH Kalibakung BKPH Balapulang KPH Pekalongan Barat, untuk mencari binatang landak.

“Mereka membakar ranting untuk mengasapi sarang landak. Namun, api sudah telanjur membesar, ternyata tidak ada satu pun landak yang keluar dari dalam lubang,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu tersangka, MN mengaku lalai dan menyesali perbuatannya. Dia bersama dua temannya terpaksa mencari landak, untuk lauk santap siang keluarga di rumah. Mereka mencari landak di lokasi kejadian karena mendapat informasi dari warga yang kerap melihat landak.

Nahas, beberapa lubang yang telah dibakar tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan landak. Api yang telanjur dibuat dengan cepat merambat ke ranting dan ilalang kering sehingga menjadikan area hutan pinus terbakar.

“Waktu membakar kita berpencar. Begitu api membesar kita sudah berupaya memadamkan pakai dahan pohon, tetapi tidak bisa. Kemudian TRM sempat minta tolong ke warga,” pungkas MN.

Hal senada juga disebutkan TRM (50) kepada metrojateng.com. Pria yang kesehariannya berprofesi sebagai buruh tani ini mengaku ikut mencari landak karena tidak ada lauk untuk disantap.

“Karena tidak ada garapan di sawah, saya ikut mencari landak. Ya biar bisa dimakan orang di rumah,” sebutnya. (MJ-10)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.