Bajong Banyu, Tradisi Perang Air Sebelum Ramadan

Tradisi yang sebelumnya berupa padusan atau membersihkan diri menjelang bulan suci Ramadan, kini dikemas menjadi lebih unik dan menarik. 

MAGELANG – Suara gamelan bertalu-talu memenuhi lapangan Dusun Dawung Desa Banjarnegoro Mertoyudan Kabupaten Magelang, Rabu (1/5/2019). Seorang wanita paruh baya berbalut kain putih dengan semangat mengikuti irama gending, menyiramkan air yang diambil dari gentong menggunakan gayung. Warga berebut agar terciprat air yang disiramkan.

Tradisi Bajong Banyu di Dusun Dawung Desa Banjarnegoro Mertoyudan Kabupaten Magelang, Rabu (1/5/2019). Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Itulah tradisi “Bajong Banyu” yang sudah keenam kali ini digelar warga setempat. Tradisi yang sebelumnya berupa padusan atau membersihkan diri menjelang bulan suci Ramadan, kini dikemas menjadi lebih unik dan menarik. 

Menurut Gepeng Nugroho, seniman setempat, tradisi Bajong Banyu dari tahun ke tahun semakin meriah. Warga dan komunitas seni yang terlibat semakin banyak. Ada Jathilan, Soreng, Topeng Ireng, Gedruk dan sebagainya.

Bajong Banyu kata Gepeng, memiliki arti saling serang dengan menggunakan air. Filosofinya, meski saling serang, namun bukan amarah yang menjadi tujuannya, melainkan saling bergembira dan tidak ada rasa emosi.

Hal itu untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa dalam dinamika interaksi sosial, hendaknya mereka mengambil inspirasi dari Bajong Banyu. Yakni masyarakat bisa saling bersinergi dan tidak mudah sakit hati atau emosi.

“Lihat saja, meskipun mereka saling serang menggunakan air (banyu), namun tidak ada yang emosi. Warga justru gembira dan larut dalam suasana penuh suka cita,” kata Gepeng.

Prosesi Bajong Banyu diawali dengan kirab dari warga yang mengenakan pakaian tradisional menuju Sendang Kedawung, tidak jauh dari dusun setempat. Di sendang ini mereka mengambil air dan dimasukkan ke dalam wadah terbuat dari tanah liat.

Sendang Kedawung, menurut Gepeng, merupakan sumber mata air yang memberikan kehidupan bagi warga setempat. “Meski sekarang juga sudah masuk air PDAM, namun sendang ini tetap di jaga karena juga memberikan kehidupan warga setempat,” katanya.

Setelah dikirab, warga kembali ke lapangan. Seorang sespuh desa kemudian mendoakan air yang sudah ada di dalam gentong. Sebuah doa pengharapan agar warga setempat selalu menjaga kerukunan dan diberi kemakmuran. Setelahnya, air itu dibasuhkan kepada warga yang menghendaki. setelah itu Bajong banyu dimulai.

Bajong Banyu ini juga sebagai ajang silaturahmi warga dan mensucikan diri dengan saling bermaaf-maafan, sebelum mereka menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. (MJ-24).

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.