Ayahandanya Berpulang, Gatot Tak Diizinkan KPK Hadiri Pemakaman

image
Suasana upacara pemberangkatan jenazah alm Djuli Tjokro Wardojo (88), ayahanda mantan Gubernur Sumatra Utara Gatot PujoNugroho, di perumahan Kalinegoro Mertoyudan Kabupaten Magelang, Rabu (27/7). (foto: MJ-24).

MAGELANG – Upacara pemberangkatan jenazah almarhum Djuli Tjokro Wardoyo (90) pada Rabu (27/7) di Perumahan Kalinegoro Mertoyudan Kabupaten Magelang, berlangsung begitu sederhana. Almarhum adalah ayahanda dari mantan Gubernur Sumatra Utara (Sumut), Gatot Pujo Nugroho yang kini menjadi tahanan KPK terkait skandal suap tiga hakim PTUN Medan dan seorang panitera. Almarhum meninggal pada Selasa (26/7) lalu.
Tidak banyak karangan bunga yang dikirim sebagaimana biasa diberikan kepada seorang pejabat. Hanya terlihat ada 5 karangan bunga duka cita, beberapa diantaranya dari Gubernur Sumatra Utara Ir Tengku Erry Nuradi, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Sumatera Utara Sarmadan Hasibuan dan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Hasban Ritonga.
Para pelayat yang datang banyak dari korps Veteran dimana almarhum memang merupakan seorang veteran yang banyak berjuang untuk membela negara dan bangsa. Selain itu almarhum juga pensiunan TNI. Sedangkan dari pemerintah Kabupaten Magelang nampak terlihat Kepala Dinas Pariwisata Drs Edi Susanto dan beberapa pejabat lain.
Terlihat pula beberapa teman sekolah Gatot Pujo semasa di SMPN 1 Kota Magelang. Namun Gatot sendiri tidak nampak menghadiri pemakaman.
Menurut istri pertama Gatot, Sutias Handayani, pihak keluarga sudah mengajukan ijin agar Gatot diijinkan keluar dari LP di Medan. “Namun sampai sekarang tidak ada ijin yang dikeluarkan, akhirnya beliau minta pada saya dan anak-anak untuk berangkat lebih dulu ke Magelang. Kalau ada ijin pasti akan menyusul, namun kalau tidak, yah sudah mengikhlaskan kepergian bapak,” kata Sutias yang sibuk menerima ucapan duka cita dari para pelayat.
Disebutkan, sebagai warga negara yang menghormati hukum, keputusan dari pemerintah tetap di hormati. “Padahal tidak mungkin bapak akan melarikan diri, namun keputusan apapun ya tetap dihormati,” ujarnya.
Sutias mengatakan, sosok almarhum merupakan sosok yang sangat diidolakan oleh suaminya. Semasa hidup, almarhum dikenal sebagai ayah yang disiplin sayang pada anak-anak dan cucu-cucunya.
Saat memberitahukan perihal meninggalnya almarhum, suaminya terlihat sangat sedih. “Beliau sedih karena ayahnya harus menyaksikan jalan hidupnya yang seperti itu. Siapa yang mau juga ya. Mungkin ini jalannya dari Alloh agar beliau lebih dekat sama Alloh Swt,” ujar wanita yang datang bersama putrinya Mutiah, yang baru menyelesaikan pendidikan di Kairo.
Menurut Sutias, Gatot sudah terus menjalin komunikasi melalui sambungan telepon dengan keluarga di Magelang, saat mengetahui ayahandanya sakit. “Jadi kalau pas diijinkan menggunakan telepon, beliau berkomunikasi dengan keluarga di Magelang,” ucapnya.
M Husain, adik ipar Gatot juga mengatakan, kalau sampai saat pemakaman, kakaknya yang kini berada di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I Tanjung Gusta, Medan, belum mendapatkan ijin untuk bisa pulang ke Magelang.
Sebelumnya, Gatot berada di LP Sukamiskin Bandung. Namun karena harus menjadi saksi dalam kasus korupsi dana bantuan sosial dan hibah Pemprov Sumatra Utara, maka kakaknya di titipkan di LP Gusta Medan.
Ayah mertuanya, Djuli Tjokro Wardoyo menghembuskan nafar terakhir setelah sempat dirawat di RSUD Tidar Kota Magelang, Selasa (26/7) siang lalu. Karena kondisinya yang terus menurun,akhirnya ayah mertuanya di bawa pulang dan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah. Saat itu, seluruh keluarga juga sudah hadir. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat
Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

55 − = 46

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.