Awas, Narasi Politik Picu Pengguna Medsos Jadi Generasi Pemarah

Menjelang Pilpres, narasi politik bermuatan ujaran kebencian dan hasutan bertebaran di beranda media sosial (medsos).

Psikolog Rumah Sakit Santo Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Suhu politik yang kian memanas menjelang kontestasi Pemilihan Presiden, berpotensi mengubah perilaku pengguna media sosial, terutama generasi milenial di Indonesia. Sebab, segala macam konten pemberitaan hingga narasi politik yang bermuatan ujaran kebencian dan hasutan bertebaran di beranda media sosial (medsos). Hal itu dinilai memicu pengguna medsos menjadi generasi yang mudah marah.

“Karena banyaknya informasi di media sosial yang beragam tanpa ada yang memfilter, tentunya anak muda milenial yang ada saat ini cenderung membuat komentar-komentar sesuka hati mereka. Dampaknya yang muncul pada perilaku mereka yang sering berselancar di dunia maya adalah sikapnya menjadi lebih emosional,” kata seorang psikolog dari Rumah Sakit Santo Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro, ketika dihubungi metrojateng.com, Sabtu (23/2/2019).

Sebelumnya diberitakan, Pilpres yang tinggal dua bulan lagi dimanfaatkan oleh setiap tim kampanye capres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf dan 02 Prabowo-Sandi untuk memanfaatkan semua jejaring media sosial.

PSI sebagai pengusung capres Jokowi-Ma’ruf telah mengerahkan semua calegnya untuk bermain opini di medsos. Di sisi lain, tim BPN Prabowo-Sandi juga gencar di medsos dengan merangkul ribuan netizen.

Probowatie menilai situasi kampanye Pilpres yang mengedepankan pemakaian medsos dikhawatirkan akan menghasut anak-anak muda yang kerap memakai gawai sebagai kebutuhan setiap hari.

“Medsos ini kan bisa digunakan secara positif dan negatif. Positifnya bisa untuk media pembelajaran di era teknologi. Tetapi yang agak riskan ketika pemilu seperti saat ini, anak-anak milenial yang sering membaca konten-konten politik, mudah dipengaruhi oleh setiap narasi yang dimunculkan di medsos. Jika anak itu suka mobil misalnya, maka orang akan mempengaruhinya lewat mobil yang digemari anak tersebut. Saya rasa begitu banyak cara yang bisa dipakai untuk meraih suara mengambang dari kalangan milenial,” paparnya.

Probowatie meminta pemerintah pusat untuk lebih menegakan aturan dalam UU ITE supaya penggunaan medsos dapat dikendalikan.

UU ITE, katanya, jadi salah satu cara ampuh untuk menegakan membatasi anak milenial dalam berselancar di dunia maya. Ia mengaku khawatir penggunaan medsos yang berlebihan lambat laun mengubah perilaku anak-anak milenial menjadi individualis atau anti sosial (asosial).

Jika perubahan perilaku ini dibiarkan terus-menerus, Probowatie mengatakan secara psikosis perilaku anak bisa cenderung kebablasan. “Kalau sudah tidak dapat dikendalikan lagi, mereka akan berkomentar seenaknya di medsos agar dapat memuaskan keinginannya,” ujarnya.

Ia menyarankan para orangtua supaya bisa melindungi anak-anaknya dari pengaruh dunia maya. Karena perilaku anak sangat dipengaruhi juga oleh lingkungan rumahnya. “Jika anak itu jadi nakal tentunya akibat dari lingkungan tempat tinggalnya. Begitupun sebaliknya,” pungkasnya. (far)

 

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.