“Arus Bukit” di Jatiwayang Berdayakan Kembali Area Perbukitan

Arus Bukit benar-benar ingin menghidupkan dan memberdayakan Kampung Jatiwayang sebagai area perbukitan.

SEMARANG – Kolektif Hysteria bersama warga Kampung Jatiwayang Ngemplak Simongan Semarang menggelar acara “Arus Bukit”, Sabtu-Minggu (24-25/8/2019). Kegiatan yang didukung oleh Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Kemendikbud dan melibatkan seniman dari berbagai kota di Indonesia itu berupaya memberdayakan area perbukitan di Kota Semarang.

Warga Kampung Jatiwayang Ngemplak Simongan Semarang berfoto di instalasi mural yang dibuat para seniman pada Festival Arus Bukit. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

Ketua Panitia Arus Bukit, Istiqbalul Fitriya mengatakan, pada festival ini tidak sekadar pameran atau unjuk karya dari para seniman. Namun, Arus Bukit benar-benar ingin menghidupkan dan memberdayakan Kampung Jatiwayang sebagai area perbukitan.

“Hal ini dibuktikan oleh para seniman yang melakukan residensi selama seminggu sebelum festival untuk membaur bersama warga. Dengan harapan dari aktivitas live in ini karya mereka akan dekat dengan masyarakat dan bisa memberi kontribusi nyata terutama bagi Kampung Jatiwayang,” ungkapnya saat ditemui, Sabtu (24/8/2019).

Sebanyak 23 seniman visual dan 24 seniman pertunjukan terlibat dalam helatan yang berlangsung sejak 3 Agustus hingga puncaknya 24 dan 25 Agustus. Berbeda dengan Festival Bukit Jatiwayang pertama tahun lalu, acara kali ini mengangkat isu bukit sebagai titik masuk.

“Sebenarnya Semarang adalah kota bukit, namun jarang sekali topografi ini dianggap sebagai penanda kota atau branding. Apalagi, diaktivasi sebagai tempat aktivitas kesenian. Melalui kegiatan ini diharapkan bukit-bukit dapat diberdayakan kembali,” tuturnya.

Tampak puluhan seniman menggambar dinding atau membuat instalasi di kampung. Ajit Mahendra (26) warga Jalan Srinindito Timur Nomor 7 RT 02 RW 3, Ngemplak Simongan merasa sangat senang dengan adanya aktivitas ini nama kampung terangkat dan menjadi indah. 

Festival Arus Bukit diharapkan dapat mendorong interaksi budaya lintas kelompok dan daerah. Foto: metrojateng.com/anggun puspita

“Bagus sekali kegiatannya, kami merasa bangga terlibat dalam kegiatan ini,” katanya. Ada belasan rumah yang dindingnya dilukisi dengan aneka karakter yang masih relevan dengan isu kampung.

Waris Sutriono (40) warga Srinindito Timur Nomor 2 RT 6 RW 3 menambahkan, juga merasa senang karena kegiatan ini bisa mengajarkan kepada generasi muda tentang kampung dan merawat budaya.

Selain aktivitas mural dan grafiti kegiatan ini juga diisi dengan berbagai rangkaian acara yang tidak kalah menarik. Ada bukit buku, yakni pameran buku di tengah kampung dan juga bazaar makanan oleh warga setempat. Ribuan buku yang didatangkan dari puluhan penerbit dari macam-macam ini turut meramaikan acara ini.

Fitriya menambahkan, pada acara puncak Minggu (25/8/2019) akan digelar parade kesenian oleh warga kampung. “Parade ini memiliki tema besar pakaian adat nusantara, dengan tokoh pewayangan sebagai maskot seperti Pandawa Lima dan Punakawan,” imbuhnya.

Direktur Kesenian Kemendikbud, Restu Gunawan menyatakan, kegiatan ini merupakan realisasi dari program Ekspresi ‘Seniman Jalanan’ yang secara khusus memfasilitasi para penggiat seni visual jalanan dan seni urban yang kerap berkreasi dan berekspresi melakukan praktik kesenian di ruang publik atau di sudut-sudut kota.

“Melalui kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong interaksi budaya lintas kelompok dan daerah dalam rangka meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap keragaman ekspresi budaya di masyarakat,” katanya. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.