Annese Menjanjikan di Awal, Berujung Antiklimaks

Bersama Annese, PSIS baru mengemas lima kemenangan (25%), terburuk di antara kontestan Liga 1.

SEMARANG – Vincenzo Alberto Annese harus mengakhiri karir di Indonesia lebih cepat. Lima bulan membesut PSIS, pelatih berpaspor Italia diputus kontrak karena gagal menjadikan timnya tampil kompetitif di Liga 1, meski sempat membuat awal yang menjanjikan.

Vincenzo Alberto Annese jadi pelatih kesepuluh yang dipecat tim Liga 1 musim ini

Vincenzo Alberto Annese menjadi sorotan ketika resmi diperkenalkan sebagai pelatih PSIS pada 23 Maret 2018 silam. Dia adalah satu-satunya pelatih berlisensi UEFA Pro (level tertinggi kepelatihan) yang beredar di Liga 1, sebelum Arema FC menunjuk Milan Petrovic.

Dengan reputasinya tersebut, cukup beralasan jika fans Mahesa Jenar bisa cepat menerima Annese, meski mereka baru saja ‘kehilangan’ Subangkit yang didepak sebelum kompetisi dimulai. Pria yang akan genap berusia 34 tahun pada 22 September itu membawa perubahan dalam metode latihan hingga program diet untuk pemain.

Kekalahan 0-2 di markas PSM Makassar di pekan pertama juga masih bisa ‘dimaafkan’, mengingat Annese baru bergabung dua hari sebelum kick off. Selanjutnya PSIS sempat dibawa menjalani tiga laga beruntun tanpa kekalahan.

Setelah berimbang kontra Bali United, tim kebanggaan Semarang berhasil mencuri satu poin di kandang juara bertahan Bhayangkara FC. Selanjutnya mereka melumat sesama tim promosi PSMS Medan dengan skor 4-1.

Annese pun dianggap sukses menaikkan level permainan Haudi Abdillah cs yang dinilai kurang menggigit di era Subangkit. Skema 4-3-3 racikan Annese membuat PSIS jadi salah satu tim paling berbahaya saat menyerang.

Efek Annese ternyata tak bisa bertahan lama. PSIS tak pernah memetik poin di kandang lawan. Bahkan mereka selalu kalah dengan skor mencolok, masing-masing 1-4 dari Barito Putera dan 0-4 saat dibekap Sriwijaya FC di pekan ke-10.

Tapi, sejak kekalahan dari Sriwijaya, Annese berhasil membenahi pertahanan timnya. PSIS hanya kebobolan dua gol dalam tujuh laga berikutnya dan lima di antaranya berakhir clean sheet.

Bahkan hingga pekan ke-20, PSIS termasuk dalam 10 besar tim dengan pertahanan terbaik. Sejauh ini gawang Mahesa Jenar sudah kebobolan 27 gol atau 1.35 per laga. Mereka hanya kalah dari Persib (19 gol), Bali United dan Perseru (21 gol), Persija (22 gol), Persipura (25), PSM, Madura United dan Bhayangkara FC (26 gol).

Torehan itu lebih baik ketimbang peringkat keempat Barito Putera yang sudah kebobolan 32 gol (1.6) maupun Borneo FC dan Persela Lamongan di peringkat 8 dan 9 yang sama-sama kemasukan 28 gol (1.4). Dua tim sesama penghuni zona merah, PS Tira dan PSMS bahkan sudah kebobolan 44 dan 36.

Persentase Kemenangan Buruk

Masalahnya pertahanan apik tak diimbangi dengan produktivitas gol ke gawang lawan. PSIS hanya mampu menjaringkan 18 gol atau 0.9 gol per laga. Mereka hanya lebih baik jika dibandingkan dengan Perseru yang baru menorehkan 15 gol. Hari Nur cs masih kalah produktif dari PSMS (22 gol) dan PS Tira (27 gol).

Seretnya produktivitas gol PSIS juga berbanding lurus dengan persentase kemenangan. Bersama Annese, PSIS baru mengemas lima kemenangan (25%), terburuk di antara kontestan Liga 1.

Kebersamaan Vincenzo Annese dan PSIS hanya berumur lima bulan

PSIS juga jadi tim kedua yang paling banyak kehilangan poin di kandang. Jawara Liga Indonesia 1999 sudah menelan tiga kekalahan dan tiga kali seri saat main di hadapan Panser Biru dan SneX.

Artinya mereka sudah defisit 15 poin dari 11 laga kandang yang sudah dimainkan, dengan total poin yang bisa dicapai 33. PSIS hanya mampu meraup 18 poin home, hasil lima kemenangan dan tiga kali imbang.

Torehan itu sebenarnya masih lebih bagus ketimbang PS Tira yang sudah kehilangan 17 poin di kandang. Tapi tim milik TNI itu mampu mencuri lima poin dari kandang lawan, salah satunya kemenangan 2-0 atas PSIS di pekan ke-9. Sedangkan PSIS hanya menorehkan dua poin away.

Sampai pekan ke-20, PSIS masih terdampar di peringkat 17 dengan 20 poin, satu setrip di atas PSMS yang mengoleksi 19 poin dan di bawah PS Tira dengan poin 21. Tim Ibukota Jateng tertinggal tiga poin dari Perseru Serui yang berada di batas akhir zona aman.

Dengan pencapaian tersebut tak cukup bagi Annese untuk meyakinkan manajemen Mahesa Jenar. Mantan pembesut klub Palestina Ahli Al-Khalil dan Bechem FC itu harus menanggalkan jabatannya usai serangkaian hasil buruk.

PSIS gagal menang dalam tiga laga terakhir, dua di antaranya berakhir dengan kekalahan. Pertandingan melawan Bhayangkara FC yang berkesudahan 1-2, Senin (13/8) silam menjadi laga perpisahan Annese.

“Kami sudah memberi kesempatan kepada coach Vincenzo Annese hingga 20 laga, tapi sampai saat ini PSIS masih berada di zona degradasi. Berdasarkan hasil evaluasi bersama manajemen dan Direktur PT Mahesa Jenar Semarang, kami membutuhkan penyegaran di sektor pelatih,” kata CEO PSIS, Yoyok Sukawi, terkait alasan pemecatan Annese, Kamis (23/8/2018).

Sebagai gantinya, manajemen menunjuk Jafri Sastra untuk menangani PSIS hingga akhir musim. “Bersama coach Jafri Sastra kami berharap komunikasi dengan pemain yang sebelumnya kurang bagus bisa diperbaiki,” imbuh Yoyok.

Jafri Sastra masih punya 14 pertandingan untuk membuktikan diri, enam di antaranya di kandang. Ujian terdekat adalah dua laga away ke kandang PSMS Medan (12 September) dan Persija Jakarta (18 September). (twy)

Fakta PSIS dan Vincenzo Annese

* Vincenzo Annese (33 tahun 6 bulan) jadi pelatih termuda di Liga 1 saat ditunjuk membesut PSIS akhir Maret 2018

* PSIS sudah berganti pelatih tiga kali dalam lima bulan terakhir, terbanyak di Liga 1

* Dengan memecat Vincenzo Annese, PSIS menjadi tim kesepuluh di Liga 1 yang mengganti pelatih saat kompetisi sudah bergulir. Hanya Persib, Persija, Barito Putera, Persela, Bhayangkara FC, PSM, Bali United dan Perseru yang masih mempertahankan pelatih.

* PSIS masuk 10 besar tim dengan pertahanan terbaik. Hingga pekan ke-20, gawang Mahesa Jenar baru kebobolan 27 gol (1.35 gol per laga), sama dengan yang dibukukan Arema FC

* Produktivitas gol PSIS terburuk kedua dengan torehan 18 gol (0.9 gol per laga), hanya unggul di atas Perseru dengan 15 gol (0.75 per laga)

* Persentase kemenangan PSIS paling jelek di antara 18 kontestan di Liga 1. Hingga 20 laga, Mahesa Jenar baru mengemas 5 kemenangan (25%)

* PSIS jadi tim kedua yang paling banyak kehilangan poin di kandang. Haudi cs sudah minus 15 poin kandang dan hanya lebih baik dari PS Tira yang sudah kehilangan 17 angka

* Bersama PSMS dan Mitra Kukar, PSIS belum pernah menang di laga away musim ini

 

 

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.