Aktivitas Galian C Bikin Pertanian di Tegal ‘Mati Suri’

Minimnya debit air sempat membuat sesama para petani bersitegang. Mereka berebut air untuk mengairi lahan pertainannya masing-masing.

TEGAL – Tingginya aktivitas penambangan pasir dan batu galian C di kawasan Sungai Gung, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, mengakibatkan aliran sungai terhenti. Akibatnya, puluhan hektar lahan pertanian terpaksa mati suri, lantaran tak mendapatkan suplai air.

Sebuah dump truk mengangkut pasir dan batu di penambangan galian C Desa Lebaksiu Kidul, Kabupaten Tegal. Foto : metrojateng.com/ adithya

Kondisi tersebut telah dirasakan para petani di beberapa kelompok tani (poktan) sejak 10 tahun silam. Maraknya aktivitas penambangan, menyebabkan aliran debit air Sungai Gung semakin berkurang. Alhasil, lahan pertanian sejumlah poktan mengering dan dibiarkan terbengkalai.

Berdasarkan data yang diperoleh, lahan poktan yang mengalami kekeringan yakni, Poktan Randualas dengan luas 19,793 hektare, Poktan Watugede seluas 26,200 hektare, Poktan Sibangkang 45,785 hektare dan Poktan Kedondong seluas 47,170 hektare.

“Hampir 10 tahun lebih, kami (petani) tidak bisa mengolah lahan pertanian. Sebab, airnya tidak cukup untuk mengairi sawah,” ungkap H Muhi, Ketua Pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Lebaksiu Kidul, Kamis (4/7/2019) siang.

Dijelaskan dia, saat ini mayoritas petani beralih bercocok tanam, dari padi ke palawija. Meski hasilnya pun masih tak berbeda jauh. Bahkan, beberapa petani terpaksa banting setir berwirausaha.

Senada dengan H Muhi, adik iparnya, Abdul Muis juga merasakan hal yang sama. Minimya suplai air merupakan imbas dari penambangan galian C. Dimana banyak bantaran sungai yang ambrol menutupi aliran yang menuju lahan-lahan pertanian warga.

Bahkan, sambung Muis, minimnya debit air sempat membuat sesama para petani bersitegang. Mereka berebut air untuk mengairi lahan pertainannya masing-masing.

“Penambangannya merajalela, bahkan ada yang menggunakan alat berat. Pernah, sesama petani ribut karena rebutan air. Tapi sekarang ini, kami memilih untuk berjualan, daripada bertani tetapi terus merugi,” akunya.

Ketua Pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Lebaksiu Kidul, H Muhi menunjukkan lahan pertaniannya yang dibiarkan mati suri. Foto : metrojateng.com/ adithya

Sementara itu, kuasa hukum salah satu penambang galian C dari PT , Fajar Sunjaya mengemukakan, para petani salah alamat, jika menyebut aliran sungai rusak lantaran maraknya aktivitas penambangan. Sebab, di kawasan Sungai Gung, terdapat penambang legal dan ilegal alias abal-abal.

Lebih lanjut Fajar menjelaskan, semestinya pemerintah setempat mampu mengatasi permasalahan ini. Khususnya, mengakomodasi penambang legal dan ilegal. Sebab, secara teknik penambang legal melakukan aktivitas sesuai dengan aturan, karena terdapat kajian.

“Ini ada pertarungan penambang legal dan ilegal. Tidak semata-mata dipukul rata, semua penambang dikambinghitamkan. Karena untuk irigasi, kita juga pernah membuatkan untuk warga,” tegasnya.

Ditambahkan dia, dalam prosesnya, penambang ilegal menggunakan jembatan timbang, guna mengontrol keluar masuknya truk agar tidak melebihi tonase. Sementara penambang ilegal, tidak menggunakan karena takut dijerat pajak.

“Jika kemudian penambang legal yang disalahkan, maka harus diluruskan. Bila perlu kumpulkan seluruh penambang, petani dan pemerintah, duduk bersama untuk mencari solusi terbaik,” pungkasnya. (MJ-10)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.