Akan Terima Tambahan Modal Rp 50 Miliar, Bank Pasar Dilarang Prioritaskan Kreditur Besar

Pemkot Semarang harus mampu membuktikan bahwa perusahaan pelat merah bisa berkembang.

SEMARANG – Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bank Pasar milik Pemerintah Kota Semarang diingatkan agar bermanfaat untuk rakyat. Bank tersebut dilarang memprioritaskan debitur atau kreditur besar.

Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Semarang, Sodri. Foto: metrojateng.com/masrukhin abduh

Hal itu disampaikan oleh Anggota DPRD Kota Semarang, Sodri terkait pelayanan BPR Bank Pasar. Ia menegaskan, bank ini dilarang memprioritaskan debitur atau kreditur besar, dan justru kurang semangat ketika melayani pedagang pasar dan pengusaha mikro atau kecil.

“Saya dan para anggota dewan tak bosan mengingatkan, setiap tetes uang rakyat harus dipergunakan untuk memberi manfaat kepada rakyat. Bank Pasar milik Pemkot harus benar-benar melayani rakyat,’’ ujarnya ditemui di kantor DPRD Kota Semarang, Rabu (20/11/2019).

Sodri yang menjadi Sekretaris Panitia Khusus (Pansus) Raperda Perumda Bank Pasar menyatakan, Bank Pasar telah diberi modal besar dari uang rakyat. Disebutkan, tahun 2018 modal dasar Rp 15 miliar telah didapatkan dari APBD Kota Semarang. Lalu direncanakan tahun 2020 akan ditambah modalnya secara bertahap menjadi Rp 50 miliar.

“Kami telah bersidang membahas permintaan Pemkot Semarang untuk menambah modal Bank Pasar menjadi Rp 50 miliar pada 2020. Uang rakyat ini harus dikawal ketat,’’ tandas Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Semarang ini.

Sodri yang berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa ini menjelaskan, di saat bank lain harus berjuang mencari modal sendiri dari nasabah, Bank Pasar ini mendapat modal dari APBD. Karena itu dia menekankan agar digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Yaitu melalui pelayanan kredit murah, pembinaan usaha, pengembangan usaha kecil, kemitraan dengan pedagang pasar, dan lain-lain.

“Pemkot Semarang harus mampu membuktikan bahwa perusahaan pelat merah bisa berkembang. Jangan seperti umumnya stigma yang menempel selama ini, bahwa Perumda kurang profesional,” tuturnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, pengelola Bank Pasar Kota Semarang harus menjadikan modal tersebut sebagai amunisi untuk bersaing dengan BPR lain. Jangan sampai justru malah membuat tidak inovatif dan tidak kompetitif.

“Kami juga meminta ada skema kredit tanpa bunga dan kredit tanpa agunan. Koperasi simpan pinjam saja bisa, Bank Pasar yang berstatus Perumda BPR harus lebih bisa,” pungkasnya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.