Agustusan jadi Momen Pelestarian Permainan Tradisional Anak di Jepara

Sudah saatnya anak-anak kembali ceria dengan permainan yang bisa mengolah kreatif dan kebersamaan

JEPARA – Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia di Kabupaten Jepara menjadi momen pelestarian permainan tradisional anak. Kegiatan yanh melibatkan anak-anak ini mendapat respons yang sangat positif.

Anak-anak di Margoyoso bermain permainan tradisional anak. Foto: metrojateng.com

Di sebuah gang Desa Margoyoso Kecamatan Kalinyamatan, keceriaan anak-anak seusia SD mengikuti serangkaian lomba permainan tradisional anak. Seperti dakon, lompat tali karet, cublak-cublak suweng, singkongan, ingklik (sunda manda), bentik, ular naga, rambatan, kelereng dan pasaran.

Kegiatan bertema “Permainan Tradisional Milik Kita” ini digagas Pemuda Margoyoso Bersatu berlangsung selama tiga hari sejak Jumat (17/8) siang hingga hari ini.

Ketua Panitia Adi Waluyo menuturkan bahwa kegiatan lomba permainan tradisional anak sebagai pemuncak perayaan HUT RI 2018. Hari sebelumnya sudah digelar lomba hiburan dan pameran lukisan.

“Kami menilai Agustusan dapat menjadi momen pelestarian permainan tradisional. Karena apa, anak-anak sekaranh bahkan tidak kenal dengan permainan yang sudah menjadi milik kita selama ini,” ujarnya, Minggu (19/8/2018).

Menurutnya, permainan tradisional anak memgandung unsur edukasi. Baik membutuhkan kebersamaan, juga mengolah daya kreatif anak.

“Sudah saatnya anak-anak kembali ceria dengan permainan yang bisa mengolah kreatif dan kebersamaan,” paparnya.

Tak kalah kreatif dilakukan oleh Rumah Belajar Ilalang (RBI) yang mengajak anak-anak di Karimunjawa. Mulai membuat sampai menerbangkan layang-layang.

Selain itu, menariknya anak seusia TK/PAUD dan SD juga diajari membuat samplung, alat musik tiup dari bahan baku buah nyamplung.

Muhammad Hasan, penggagas RBI menyampaikan bahwa samplung merupakan alat musik hasil inovasi dari seniman di Karimunjawa.

“Nyamplung ini tumbuhan endemik di Karimunjawa. Maka, menarik untuk dikembangkan dan dikenalkan pada anak-anak. Agustusan tepat dijadikan momen seperti ini,” tutur dia.

Harapannya samplung bisa menjadi salah satu cara untuk memanfaatkan potensi Karimunjawa yang belum maksimal. Selain menjadi alat musik, semoga Samplung juga bisa menjadi salah satu produk kerajinan khas Karimunjawa.

“Beberapa  karya dari lokakarya ini akan kami bawa untuk dipamerkan saat ArtKids pada tanggal 14-16 September 2018 nanti. Jadi selain memberikan edukasi, kami juga memberi ruang apresiasi pada karya seni anak.” tandasnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.