Aedes Menyerang, Puluhan Pasien Demam Berdarah Dirawat di RS Elisabeth

Meski telah dilakukan aksi periksa jentik, rupanya nyamuk Aedes Aegypti tetap bersarang. Sejumlah warga mulai terkena dampak. 

 

Dua pasien anak saat dirawat di Bangsal Theresia RS Elisabeth Semarang. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Hanya dalam kurun waktu 10 hari terakhir, jumlah pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Semarang mulai merambat naik. Di RS Santo Elisabeth Semarang, sejak 1 Januari hingga sekarang pasien demam berdarah yang dirujuk mencapai 22 orang.

 

Mereka rata-rata menjalani rawat inap dua sampai lima hari. “Data rekam medic yang kami miliki, pasien DB yang masuk mulai 1 Januari hingga 10 Januari ada 22 orang,”
ujar Kepala Humas RS Santo Elisabeth, Probowatie Tjondronegoro saat ditemui di ruang kerjanya, Jalan Kawi Semarang, Kamis (10/1/2019).

 

Dikatakannya, mereka menggunakan rujukan berjenjang BPJS dari puskesmas untuk kemudian dirawat di beberapa bangsal dan layanan kelas. “Paling tidak dua sampai lima hari. Setelah sembuh diizinkan pulang,” katanya.

 

Jumlah pasien DBD mengalami lonjakan dibanding Desember lalu hanya 21 orang. “Kalau selama 2018 kemarin total pasien DBD yang dirawat di rumah sakit kami ada 234 orang,” tuturnya.

 

Beberapa pasien DBD, kata dia, kini masih ada yang dirawat di Bangsal Vincentius, Fransiskus dan Bangsal Theresia khusus Anak.

 

Di ruang Vincentius misalnya, terdapat seorang pasien DBD yang tengah tergolek lemah. Muslikah, nama pasien itu mengaku sudah dua hari terserang penyakit yang dipicu gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

 

“Rasanya demam, greges-greges terus semua badan rasanya gatal-gatal sekali. Ini saya sudah dua hari dirawat di sini,” kata perempuan 48 tahun tersebut.

 

Sedangkan di bangsal Theresia khusus Anak, dua kakak beradik juga tampak lemah di atas kasur. Christina Hariani dan Naomi Liana, nama keduanya tak menyangka terkena DBD saat berada di rumahnya, Kampung Genuk Karanglo, Tegalsari.

 

“Yang kakaknya sudah sejak Senin. Kalau adiknya baru kemarin dirujuk ke sini,” tutur Suharti, orangtua kedua pasien tersebut.

 

Gejala DBD dirasakan mulai suhu badannya naik drastis 40 derajat yang disertai mual, muntah-muntah dan bagian perut terasa sakit. Bahkan wajah anaknya memerah yang disebabkan panas tak kunjung turun.

 

“Greges-greges terus anak saya. Kami awalnya pakai BPJS faskes keluarga dulu, lalu dirujuk ke sini,” akunya.

 

Ia mengaku terkejut mendapati kedua anaknya sakit DBD. Padahal di lingkungan rumahnya kerap ada kegiatan 3M bersama pihak kelurahan dan pengurus RT. “Juga ada aksi pantau jentik kok. Makanya kenapa kok malah anak-anak saya kena demam berdarah. Ini mereka terpaksa izin tidak masuk sekolah dulu,” keluhnya. (far)

 

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.