Abu Tholut, Bantu BNPT Jalankan Deradikalisasi

Ilustrasi

SEMARANG – Sejumlah eks narapidana kasus terorisme yang masih berafiliasi dengan jaringan ISIS di Semarang hingga saat ini masih sulit disentuh dengan program deradikalisasi. Tak jarang dari mereka yang terlibat cekcok saat diberi penyuluhan dari petugas Kementerian Agama (Kemenag).

“Ada bekas narapidana terorisme yang berafiliasi dengan jaringan Jemaah Islamiyah maupun ISIS. Nah, kalau yang afiliasi ISIS ini enggak pernah mau kerjasama. Mereka malah banyak yang kembali ke jaringan lama karena tidak mendapat sentuhan dari pemerintah daerah,” ujar Koordinator Penyuluh Narapidana Terorisme dan Narkoba dari Kemenag Kota Semarang, Syarief Hidayatullah, Senin (5/1).

Ia menyampaikan selama ini kebijakan BNPT dengan Bapas dalam menangani narapidana terorisme di dalam lapas kerap tumpang tindih. Banyak pola-pola deradikalisasi yang diterapkan menemui hambatan.

Ia bahkan menemukan dari 30 eks narapidana terorisme yang telah menghirup udara bebas, terdapat lima orang yang menolak kembali pada pemerintah. Eks narapidana afiliasi ISIS tersebut, katanya masih memegang doktrin bahwa aparat kepolisian merupakan musuh utama.

“Dan kami tidak bisa menyentuh mereka. Ada satu dedengkot eks napi teroris ketika didekati, saya nyaris diajak berantem. Kami rasa pemerintah harus mengubah pola pendekatan kepada mereka,” ungkapnya.

Kondisi ini justru berbanding terbalik dengan eks narapidana terorisme yang sempat berafiliasi dengan JI, Abu Tholut. Dengan kondisi kesehatannya yang sedang sakit, mantan Ketua Mantiqi III JI tersebut kerap menghadiri pertemuan untuk mengisi program deradikalisasi dari BNPT.

“Sudah bisa berbaur lagi dan saya dekat dengan Abu Tholut. Dia sekarang di Kudus dan kegiatan utamanya membantu pekejaan-pekerjaan BNPT khususnya melakukan deminiasi untuk program deradikalisasi,” sergahnya.

Ia berharap pemerintah meningkatkan perhatian bagi eks narapidana terorisme dengan memberi kemudahan permodalan usaha. Dengan begitu, kesulitan hidup yang membelit keluarga mereka dapat teratasi secara perlahan-lahan. “Mereka kesulitan mendapat modal usaha,” tandasnya. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 60 = 69

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.